Suko Prayitno, Master Seni Wayang Orang dari Tampo, Cluring

0
1169

sukoHALAMAN depan SDN 2 Tampo, Ke camatan Cluring, cukup ramai sore itu. Jumlah siswa di lokasi itu lumayan banyak. Mungkin hampir separo jumlah murid dalam satu kelas. Padahal, di sekolah ini sedang tidak sedang berlangsung pelajaran atau les Mereka yang tampak bergerombol di halaman sekolah itu ternyata siswa yang berlatih menari. Mereka hadir tidak memakai seragam seperti umumnya sekolah. Siswa yang hadir di sana pun tidak didominasi kalangan perempuan.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Banyak pula siswa laki-laki. Tawa dan canda sesekali pecah di antara mereka yang berbincang hangat. Tidak lama kemudian, sebuah motor memasuki halaman sekolah. Kehadiran motor itu seolah membuat puluhan siswa ini pun mengambil langkah siap. Yang awalnya duduk mereka bergegas mengambil selendang dan berjejer rapi di halaman sekolah. Oh, ternyata yang datang adalah Suko. Setelah turun dari motor, bapak satu anak ini pun bergegas menuju sebuah ruangandan menenteng sebuah tape. 

Sore itu, Suko bersama puluhan murid memang sedang tidak menggelar kegiatan belajar atau jam tambahan (les). Mereka sedang bersiap belajar latihan tari bersama. Latihan rutin yang digelar tiga kali dalam sepekan. ”Di sini rutin saya memberikan latihan tari kepada anak-anak,” ujarnya di sela-sela latihan. Latihan yang tari yang diberikan Suko, rupanya bukan sekadar tarian. Ini dibilang merupakan dasar bagi gabungan dengan kreasi seni lainnya, yakni untuk pertunjukan (karawitan).

Lulus dari menyerap ilmu tari inilah, siswa kemudian digembleng dengan menu latihan lainnya seperti seni peran. Di sini, tahap demi tahap penciptaan kreasi seni mulai tahap tari, lagu, teater, musik, dan sastra mulai dilakukan. Untuk membuat sebuah ide cerita, Suko setidaknya membutuhkan waktu sehari untuk membuat grand desainnya. Sedangkan untuk pertunjukansetidaknya paling cepat seminggu. “Tapi itu tergantung mood. Kalau lagi pas, ya cepat.  

Kalau gak ya agak lama,” tuturnya. Kesulitan kerap ditemui Suko di lapangan dalam mencoba mengaktualisasikan ide dan karyanya. Apalagi berbau tradisional, dia kerap menemui kendala seperti transfer bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah. Banyak yang harus dicari format dan padanan yang sesuai dengan kaidah dan tatanan lokal.Belum lagi saat melaksanakan tahap pembuatan pertunjukan.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last