Aktivitas Penambangan Langsung Dihentikan

  • Bagikan
Foto: Radar Banyuwangi – Jawa Pos

BANYUWANGI – Meninggalnya Andika (61) petugas sulfatara PT Candi Ngrimbi menjadi perhatian banyak pihak. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur langsung menutup seluruh aktivitas di Kawah Ijen, termasuk bagi penambang.

Dilansir dari Radar Banyuwangi – Jawa Pos, Pimpinan PT Candi Ngrimbi Cung Liyanto mengatakan, insiden yang menimpa Andika adalah sebuah musibah. Andika adalah petugas sulfatara yang memang bekerja untuk mengawasi proses penyubliman di pipa-pipa belerang.

Kemarin, Cung langsung mendatangi rumah duka di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar untuk memberikan uang duka termasuk biaya untuk proses pemakaman.

“Andika adalah karyawan tetap yang sudah bekerja selama puluhan tahun. Kami tengah mengurus BPJamsostek untuk almarhum Andika,” terangnya.

Cung mengaku sudah menerima surat dari BBKSDA Jawa Timur terkait penghentian aktivitas penambang. Larangan tersebut berlaku sampai ada pertimbangan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

“Kami sudah menerima surat edaran dari BBKSDA Jatim. Sekarang aktivitas berhenti dulu,” terang Cung.

Petugas PVMBG Gunung Ijen Suparjan menambahkan, gempa tremor serupa masih bisa terjadi di Kawah Ijen. Sama seperti kasus kegempaan lainya, aktivitas tersebut tidak bisa diprediksi. Sebenarnya penambang bisa lebih paham kapan kawah mulai menunjukkan gelagat tidak normal.

Penambang lebih tahu perubahan gejala alam seperti peningkatan suhu, kepekatan udara sampai suara gemuruh sebagai tanda anomali. Suparjan mengatakan, sudah sejak lama PVMBG memberikan peringatan terkait radius aman kawah, yaitu 1 kilometer.

Hal itu mengacu kepada aktivitas kawah yang bisa sewaktu-waktu berubah. Termasuk gempa dan aktivitas alam lainya yang tidak bisa diantisipasi.

“Kami masih merekomendasikan radius aman maksimal 1 kilometer dari kawah. Kami tidak bisa memprediksi kapan gempa dan gelembung seperti itu terjadi lagi,” tandasnya.

Fenomena langka terjadi di Gunung Ijen. Diawali dengan gempa yang terjadi selama 8,6 menit, kemudian muncul dentuman dan bualan yang mengakibatkan gelombang air kawah (tsunami) setingi delapan meter di Gunung Ijen Jumat siang lalu (30/5).

Akibat kejadian ini, seorang petugas sulfatara bernama Andika alias Pak Andik meninggal dunia. Fenomena dentuman sebenarnya sering terjadi di Gunung Ijen. Hanya fenomena itu tidak terjadi setiap tahun.

Andika tenggelam di danau setelah terjadi ”tsunami” di danau Kawah Gunung Ijen. Dia diduga menginjak material yang rapuh ketika berusaha menyelamatkan diri saat terjadi “tsunami” di Kawah Ijen.

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: