Banyuwangi Masuk Top 10 Indeks Pariwisata Indonesia

0
179

festival-gandrung-sewu-bisa-mengangkat-jumlah-kunjungan-wisatawan-banyuwangi-dianggap-sukses-melakukan-transformasi-di-bidang-pariwisata-dari-nol-sehingga-berbuah-penghargaan

Banyuwangi Raih Penghargaan Indeks Pariwisata Indonesia

BANYUWANGI – Pengembangan pariwisata Banyuwangi kembali mendapat hasil membanggakan. Setelah awal tahun lalu berhasil menyabet jawara dunia pada ajang 12 th UNWTO Awards Forum di Madrid, Spanyol, akhir tahun ini Banyuwangi berhasil  masuk dalam jajaran sepuluh kabupaten/ kota peringkat teratas Indeks Pariwisata Indonesia.  Penilaian tersebut dilakukan Kementerian Pariwisata beserta pemangku kepentingan terkait.

Penilaian itu mengacu Travel and tourism competitive index dari World Economic Forum (WEF). Pengumuman sekaligus penyerahan penghargaan Indeks Pariwisata Indonesia tersebut dilakukan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief  Yahya di Jakarta kemarin (6/12).

asisten-administrasi-pembangunan-dan-kesejahteraan-rakyat-kesra-agus-siswanto-menerima-piagam-top-10-indeks-pariwisata-indonesia-dari-menpar-arief-yahya-di-jakarta-kemarin

Penghargaan diterima Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Agus Siswanto mewakili  Bupati Abdullah Azwar Anas.  Yang lebih membanggakan,  dalam piagam yang ditanda- tangani langsung Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya  itu disebutkan penghargaan  ditujukan kepada pemkab bersama masyarakat Banyuwangi.

Pada kesempatan tersebut Menpar Arief Yahya mengapresiasi  kiprah Banyuwangi. Menteri asal  Bumi Blambangan itu menilai Banyuwangi sukses melakukan  transformasi di bidang pariwisata dari nol. Pengembangan pariwisata Banyuwangi sangat pesat dibandingkan beberapa kota-kota  besar yang telah memiliki  infrastruktur pariwisata lebih baik.

“Selamat, Banyuwangi terpilih sebagai Top 10 Indeks  Pariwisata Indonesia. Saya harap ini melecut semua pihak untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas lagi,” ujarnya. Indeks Pariwisata Indonesia disusun berdasar sejumlah kriteria.

Sejumlah kriteria penilaian itu meliputi tata kelola, infrastruktur pendukung, potensi wisata, dan lingkungan pendukung bisnis pariwisata. Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, dengan masuk Top 10 Indeks Pariwisata Indonesia akan semakin memacu Banyuwangi untuk terus berbenah.

“Kami bersyukur karena dinilai cukup baik dalam mengembangkan pariwisata. Apalagi dari  Top 10 ini, mayoritas adalah kota besar yang pariwisatanya sudah terkenal, maju, dan menjadi destinasi unggulan,” kata dia. Anas menambahkan, salah satu faktor terpenting dalam pengembangan pariwisata adalah partisipasi publik.

Dia mengaku partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata Banyuwangi terus meningkat. Anas mencontohkan, kelompok anak muda mengembangkan   wisata di kampung-kampung, seperti hutan pinus Songgon. Ada pula kelompok masyarakat yang mengembangkan wisata di Kelurahan Temenggungan; wisata kopi Gombengsari, Desa  Wisata Banjar jelajah budaya Desa Adat Kemiren, dan Bangsring Under water.

“Partisipasi ini yang tidak ternilai. Artinya, rakyat merasakan dampak langsung pariwisata terhadap kesejahteraannya, sekaligus mampu membentuk budaya aman, ramah, dan toleran di lingkungan  masing-masing,” paparnya.

Anas menuturkan, pengembangan sektor pariwisata bukan hanya sekadar gaya, tapi juga karena dinilai sangat efektif dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Pariwisata adalah sektor yang paling murah dan cepat dalam menggerakkan perekonomian.

“Misalnya hari ini promosi, sebulan kemudian ada orang datang dan langsung menghasilkan transaksi, seperti  jasa transportasi, kuliner, dan hotel. Pariwisata juga ikut mengatrol produksi barang dan jasa,  termasuk agrobisnis yang menjadi  urat nadi perekonomian masyarakat kami,” tuturnya.

Hal itu terbukti dari geliat perekonomian di Bumi Blambangan. Beberapa tahun terakhir perekonomian daerah terus menggeliat. Produk domestik regional bruto (PDRB) Banyuwangi naik  signifikan 85%, dari Rp 32,4 triliun (2010) naik menjadi Rp 60,2 triliun  (2015). Pendapatan per kapita   warga melonjak 80 persen dari Rp 20,8 juta per tahun pada 2010  menjadi Rp37,7 juta per tahun  pada 2015.

“Tapi pariwisata bukan hanya soal ekonomi semata. Pariwisata adalah payung bagi pengembangan sektor lain, mulai infrastruktur hingga kompetensi SDM. Lewat pariwisata, daya saing warga meningkat. UMKM bergegas memperbaiki produknya agar laku dibeli. Banyak yang ikut kursus bahasa asing yang difasilitasi pemkab agar bisa jadi guide,” terang Anas. (radar)

Loading...