Jejak Penyebaran Islam di Blambangan

0
4245

“Ke rumah di suruh oleh gurunya itu, saya heran karena bapak tidak pernah ke mana-mana,” terangnya. Mbah Unus menginjakkan kakinya di bumi Blambangan pada tahun 1921. Saat itu, belajar di Kiai Kholil Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Selain itu, juga pernah belajar di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo. “Pernah ada orang yang mengaku utusan Ra Kholil (KH. R Kholil As’ad Syamsul Arifin) datang untuk minta foto,” ungkapnya. Semasa hidup, Mbah Unus tidak beda dengan warga pada umumnya, seperti ke sawah dan kegiatan gotong royong.

Loading...

“Bapak itu selalu minta pada kita, apa yang kamu makan, tanam di lahan mu,” kenangnya. Muhammad Yunus mengaku saat masih kecil, sering mengajak warga yang kerja di perkebunan untuk meningkatkan ibadah. Untuk kegiatan keagamaan itu, mendirikan musala di kawasan Perkebunan Trebasala, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore.

Selain itu, juga banyak warga perkebunan yang datang ke tempatnya untuk belajar agama.  “Di musala yang dibangun itu, dibuat untuk salat dan belajar agama,” terangnya. Para pengusaha non muslim yang mengalami perkembangan pesat setelah menerima nasihatnya, sebenarnya akan masuk Islam jika  diminta oleh Mbah Yunus.

Tapi, Mbah Unus tidak pernah meminta. “Kalau mau masuk Islam itu tidak usah karena saya minta, kalau belum mantap ya tidak usah, masuk Islam itu karena kehendakmu,” kata Muhamad Yunus menirukan ucapan bapaknya. Kejadian yang pernah diingat saat meletus peristiwa G.30/S/PKI.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | Next → | Last

Baca :
Minibus Terbakar Hebat di Kalipuro, Diduga akibat Korsleting