Petik Laut, Nelayan Muncar Larung Kepala Kambing Berkail Emas

0
444

nelayan-muncar-melarung-kepala-kambing-dari-atas-kapal-baron-di-perairan-muncar-kemarin


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

MUNCAR – Nelayan Muncar punya gawe besar kemarin (16/10). Mereka menggelar tradisi sedekah laut atau dikenal dengan petik laut. Kegiatan ritual yang digelar setiap  pertengahan bulan Suro itu dipusatkan di Pelabuhan Muncar. Upacara ritual sedekah laut ditandai dengan kirap gitik sesaji dan diakhiri dengan melarung ke tengah laut.

Dalam prosesi itu, puluhan kapal slerek dan ratusan perahu nelayan yang terlihat dipasang aneka atribut  dan aksesoris terlihat ikut mengantar.  “Tradisi ini digelar setiap 15  Suro,” terang ketua panitia penyelenggara petik laut Muncar, H.  Mohammad Hasan Basri.

Menurut Hasan, ritual petik laut  yang dilaksanakan para nelayan Muncar ini sudah digelar sejak tahun 1901 lalu. Upacara ini, digelar sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil ikan tangkapan yang  melimpah. “Ritual ini juga untuk tolak balak dan memohon keselamatan agar terhindar dari bahaya saat bekerja di tengah laut,” katanya.

Untuk rangkaian petik laut itu,  terang dia, diawali dengan pembuatan gitik sesaji, ider bumi gitik sesaji, dan dilanjutkan dengan istighosah hingga tirakatan dengan menggelar pengajian  atau semaan Alquran di setiap kampung, rumah juragan kapal, dan di musala dan masjid.

“Kami memohon kepada Allah agar  diberikan keselamatan, dan  keberkahan selama berlayar men cari ikan di laut,” katanya.  Untuk tradisi larung sesaji, jelas  dia, diawali dengan mengarak  sesaji yang ditempatkan di gitik dari salah satu rumah sesepuh  nelayan menuju ke tempat pelelangan ikan (TPI).

Sesaji yang ada di gitik berbentuk replika kapal  itu, diantaranya kepala kambing, berbagai macam kue, buah-buahan, pancing emas, candu, dan dua ekor  ayam jantan yang masih hidup. Setibanya di TPI, gitik sesaji langsung disambut enam penari gandrung, dan selanjutnya dibawa  ke atas kapal. Saat itulah, ratusan  warga berebut naik kapal yang akan mengantarkan gitik sesaji ke tengah lautan.

“Kalau bisa satu kapal dengan pengangkut gitik sesaji, itu bisa dapat berkah,” ujar Mudzakir,  salah seorang nelayan Muncar. Kapal yang membawa sesaji itu, kemudian bergerak ke tengah laut.  Di belakangnya, tampak iring- iringan kapal yang dihias beraneka motif dan warna. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak laut. Suara gemuruh sound system juga menggema di setiap kapal.

Lambaian umbul-umbul yang  tersapu angin, menambah suasana semarak di tengah samudra. Sesampainya di tengah laut, iring- iringan kapal berhenti di sebuah lokasi dengan laut yang tenang. Di perairan itu ritual inti dilakukan.  Gitik sesaji dilarung ke laut di bawah  pimpinan seorang sesepuh nelayan.

Seketika itu, teriakan syukur sontak menggema saat sesaji jatuh dan  tenggelam ditelan ombak. Para nelayan bergegas menceburkan diri ke laut untuk berebut mendapatkan sesaji. Sesekali, mereka juga terlihat menyiramkan air yang di lewati sesaji ke seluruh badan perahu.

“Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti,” kata Asnawi, salah seorang nelayan yang mengikuti rangkaian ritual itu. Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko, saat menghadiri pesta rakyat  itu mengatakan Pemkab  Banyuwangi konsisten mengangkat  kearifan budaya lokal yang telah ada   di tengah masyarakat. Salah satunya,  dengan mengemas tradisi tersebut menjadi bagian dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival.

“Ini bentuk intervensi Pemkab untuk mengenalkan budaya asli Banyuwangi kepada masyarakat global, dengan membranding tradisi ke dalam kemasan festival,  kita berharap tradisi ini akan terus  hidup dan menjadi daya tarik yang  mampu mengerek kunjungan wisatawan,” ujar Wabup Yusuf.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup Yusuf juga mengajak masyarakat Muncar untuk menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. “Kami berharap masyarakat di sini selalu menjaga kebersihan  pantai dan laut agar ikannya semakin   berlimpah. Sehingga kesejahteraan  warga juga semakin meningkat,” pesan orang nomor dua di Pemkab Banyuwangi tersebut.

Tak hanya nelayan, ribuan warga pun larut dalam euforia dan kesakralan ritual itu. Tak sekadar menyaksikan prosesi larung sesaji, mereka juga datang untuk menikmati beragam hiburan yang ada, seperti pentas seni, pasar malam yang  menjual beragam produk,  fashion,  kuliner, hingga olahan hasil laut.

Salah satu warga Muncar yang  kini menetap di Manokwari, Papua, Sutipah, 41, sangat senang bisa  pu lang untuk mengikuti tradisi  petik laut di daerah leluhurnya. “Saya sudah 30 tahun menetap di Irian dan baru kali ini pulang ke Banyuwangi, rasanya senang bisa melihat petik laut,” kata ibu yang  datang bersama putrinya itu.

Sutipah mengaku agar bisa menyaksikan pesta nelayan ter- sebut, dia dan keluarga rela menunda kepulangannya ke Manokwari. “Rencananya pulang minggu kemarin, tapi kami tunda hingga  usai petik laut, dan kami tidak sia-sia berada di Muncar,” pungkasnya. (radar)

Loading...

Baca Juga :