Tradisi Gelar Pitu di Kopen Kidul, Glagah

0
595

isiIsi Ketupat Identik Nasib Tahun Depan

Banyuwangi memang kaya tradisi. Salah satunya adalah ritual Gelar Pitu yang digelar masyarakat Dukuh Kopen Kidul, Dusun Kampungbaru, Desa/Kecamatan Glagah. Ratusan ketupat yang disusun me nyerupai gunung diarak ke liling Dukuh Kopenkidul, Dusun Kampungbaru, Desa/Kecamatan Glagah, Banyuwangi, sore itu (14/8). De ngan cara ditandu, ketupat yang oleh warga dikenal dengan istilah ku pat gunung itu dibawa ke makam le luhur warga setempat, yakni Buyut Sa ridin.

Usai didoakan di makam yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman warga itu, kupat gu nung itu dibawa kembali ke depan musala setempat. Sejurus kemudian, warga sekitar me ngeluarkan ancak berisi kupat lodo (ketupat dengan lauk ayam yang dimasak bumbu hijau) dari ru mah masing-masing. Kemudian, ku pat lodo itu diletakkan berjajar di sepanjang jalan utama Dukuh Ko pen Kidul. Lantas, seorang tokoh adat memimpin doa.

Usai ber doa, warga sekitar dan seluruh pe ngunjung menyantap hidangan kupat lodo tersebut. Setelah itu, warga bergeser menuju satu titik, tepatnya di tengah jalan depan musala, tepatnya di lokasi ku pat gunung diletakkan Beberapa menit berselang, ketua adat Du kuh Kopen Kidul, Sanusi, memberi abaaba agar warga siap memperebutkan kupat gunung tersebut. “Allahumma Solliala Muhammad,” kata Sanusi yang seketika disambut warga dengan “serbuan” ke arah kupat gunung tersebut.

Nah, di sinilah uniknya. Betapa tidak, ke tupat yang awalnya diisi seragam uang seribu rupiah, tapi sesampai di ta ngan warga, isi ketupat hasil rebutan itu bervariasi. Ada yang mendapat ketupat berisi uang Rp 10 ribu, ada yang dapat ketupat berisi Rp 5 ribu, ada juga ketupat yang isinya te tap seribu rupiah. Warga setempat percaya, isi ketupat tersebut merupakan ramalan nasib mereka se lama setahun ke depan. Semakin besar jum lah uang yang didapat, semakin lancar re zeki mereka.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last