Arak Ogoh-ogoh usai Tawur Agung

0
91

MUNCAR – Menyambut hari raya Nyepi yang dilaksanakan hari ini, umat Hindu menggelar berbagai ritual kemarin (27/3). Di antara mereka ada yang mengarak ogoh- ogoh dengan keliling desa, dan ada yang mengadakan ritual Tawur Agung.

Upacara Tawur Agung itu digelar di sejumlah pura, seperti di Pura Widya Karana, Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar,  dan di Pura Satya Mandara Giri Loka, Desa Sembulung, Kecamatan Cluring. Sebelum upacara Tawur Agung digelar, ogoh-ogoh yang dijadikan simbol kejahatan dibawa keliling.

Di Desa Sumbersewu, ada belasan ogoh-ogoh yang diarak dengan dinaikkan mobil. Sedang di Desa Sembulung, hanya ada empat ogoh-ogoh. Ketua panitia pawai ogoh-ogoh di Kecamatan Muncar, Bambang Apriono, 34, mengatakan pawai ogoh-ogoh itu untuk lebih mengenalkan pada masyarakat umum. Selain sebagai simbol kejahatan, itu juga bagian dari budaya.

“Jelang Nyepi ogoh- ogoh ini dibakar sebagai simbol membakar segala bentuk kejahatan,” terangnya. Sementara, Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Cluring, Hudoyono, 58, menyampaikan upacara Tawur Agung dilaksanakan sebagai bentuk penyucian pura, rumah, dan umat Hindu dari segala roh jahat dan sifat jahat.

“Upacara ini rangkaian ritual yang dilakukan  setelah Melasti atau pengambilan tirta kamandanu. Air itu dibawa untuk penyucian  rumahnya masing-masing,” jelasnya. Menurut Hudoyono, ogoh-ogoh itu pada  malam pergantian tahun saka diarak. Baru  pada pukul 00.00, dibakar sebagai bentuk pembersihan dari segala bentuk kejahatan.

“Mulai pukul 06.00 besuk (pagi ini), umat Hindu melaksanakan Nyepi, moment ini sebagai puncak ibadah untuk introspeksi  atau penyucian diri,” katanya.  Selama melaksanakan Nyepi, jelas dia, ada empat pantangan yang tidak boleh dilanggar, yakni amati geni (tidak menyalakan api), amati karyo (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian). (radar)

Loading...
loading...