Hari Pertama Milik Austria

0
153

Madlen Ernest Juarai Kelas Maraton

BANYUWANGI – Peselancar Eropa masih merajai pérhélatan Sport Tourism international Kite and Wind Surfing kelas marathon di Pulau Tabuhan, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, kemarin (26/ 8).

Pada hari pertama ajang tahunan itu, kitesurfer asal Austria, Madlen Ernest berhasil menjadi jawara dalam kelas Marathon. Sedangkan di posisi kedua ditempati peselancar layang asal Prancis, Heena Kumar. Sedangkan juara ketiga dimenangkan Ratih Mora dari Indonésia.

Babak pertama nomor marathon digelar 5 pertama pagi kemarin.  Rencananya,  nomor marathon akan kembali digelar hari ini (27/8), Peraih jura tiga nomor marathon babak pertama, Ratih Mora mengaku senang bisa méngikuti perlombaan kemarin.

Sebab, angin di area Pulau Tabuhan terpantau cukup kencang. Kondisi angin kencang itu dinilai sangat bagus untuk menerbangkan kite surfing. “Kalau di Bali, jika ingin bermain atau pun berlomba harus menunggu angin kencang. Sementara di Pulau Tabuhan, kecepatan angin cukup kencang berkisar 20 knot hingga 25 knot,” jelas Ratih.

Peserta lainnya, Ketut Pande, mengaku sangat mengagumi keindahan pesona Pulau Tabuhan. Menurutnya, pesona Pulau Tabuhan tidak dimiliki pantai lain. Pasir putih yang halus di Pulau Tabuhan, serta air laut yang jernih, serta biota laut yang menawan cocok untuk lokasi snorkeling.

Loading...

“Pulau Tabuhan dapat menjadi tujuan utama surf point bagi komunitas selancar dunia,” tutur Ketut Pande. Sementara itu, ajang tahunan yang masuk agenda Banyuwangi Festival (B-Fest) ini diikuti 50 kitesurfer profesional.

Peserta Sport Tourism International Kite and Wind Surfing tahun ini awalnya terdata berasal dari 13 negara. Mereka berasal dari Belanda, Thailand, Malaysia, Austria, Italia, Australia, Spanyol, dan New Zealand.

Ada juga peserta dari Amerika Serikat, Inggris, Swiss, Prancis, dan tuan rumah Indonesia. Namun hasil pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin, ternyata ada peserta tambahan yakni surfer dari negara Republik Ceko.

Ajang kali ini melombakan kategori racing maraton, trapezoid, speed trial, dan freestyle. Satu lagi nomor ekshibisi yakni kategori big jump. “Kite surfing adalah salah satu olahraga ekstrem dan butuh lokasi yang tepat untuk menyelenggarakan perlombaan tersebut. Peserta keseluruhan berasal dari 14 negara,” jelas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Banyuwangi, Wawan Yadmadi.

Suasana lokasi yang kondusif dan lomba yang kompetitif diakui sangat menarik perhatian Narapichit Pudla, peserta asal Thailand. Dia mengaku sangat senang berlomba di Pulau Tabuhan. Menurutnya, Pulau Tabuhan merupakan lokasi terbaik untuk bermain selancar angin di Indonesia.

“Di sini kecepatan anginnya pas. Apalagi pulaunya sangat cantik. Lokasi ini yang paling bagus untuk bermain surfing di Indonesia. Pulau Tabuhan merupakan tempat ketiga di Indonesia yang pernah saya datangi di Indonesia, setelah Bali dan Pulau Bintan,” papar Narapichit.

Tak heran, Narapichit tampak beberapa kali melakukan manuver frees style dengan terbang di atas air. Setelah melayang tinggi, dia mendarat di atas air dengan gerakan akrobatik. Sekadar diketahui, Narapichit merupakan runner up kategori freestyle tahun 2015 lalu.

“Saya sudah dua kali mengikuti kompetisi di Pulau Tabuhan. Cuaca dan anginnya benar-benar mendukung. Sangat menyenangkan,” pungkasnya. (radar)

loading...