OSHP Tidak Berdampak, Harga Cabai Tetap Mahal

0
234
Bupati Abdullah Azwar Anas didampingi Kepala Disperindag Ketut Kencana (kanan) melihat komoditas cabai rawit dan cabai merah di Pasar Banyuwangi kemarin.

Digerojok Tiap Hari, Cabai Tetap Mahal

BANYUWANGI – Harga cabai rawit mahal di daerah lain itu hal lumrah. Namun, ketika harga cabai melambung tinggi di Bumi Blambangan yang notabene penghasil cabai, itu tidak lazim. Hingga kemarin (23/1), harga cabai rawit di Pasar Banyuwangi masih berkisar  di kisaran angka Rp 96.000 hingga Rp 100.000  per Kilogram.

Padahal, harga cabai rawit di level petani masuk pada kisaran Rp 55.000 per Kg. Sungguh ironis, karena Banyuwangi dikenal sebagai daerah produsen cabai  yang melimpah. Meski harga cabai rawit di level petani sekitar Rp 55.000 per Kg, harga eceran cabai rawit di Banyuwangi tetap mencekik di pasaran.

Ironi mahalnya cabai tak berhenti hanya di poin Banyuwangi sebagai produsen. Simak saja laporan resmi website Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi. Bumi Blambangan termasuk  daerah dengan angka inflasi terendah di Jawa Timur (Jatim).

Dalam laporan tersebut, Kepala BPS Banyuwangi Mohammad Amin meliris, Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,47 persen di Desember 2016 atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 121,93 pada bulan November 2016 menjadi 122,50  pada bulan Desember 2016.

“Inflasi Banyuwangi bulan Desember 0,47 persen, lebih rendah dari Inflasi Jawa Timur  sebesar 0,56 persen, dan lebih  tinggi dari Nasional sebesar 0,42 persen. Dari 8 kota IHK, Banyuwangi menduduki urutan ke 4  dari bawah,” jelasnya.  Ironisnya, salah satu faktor  pemicu angka inflasi Banyuwangi  adalah kenaikan harga cabai  rawit.

Pemicu terbesar inflasi Banyuwangi adalah naiknya harga tiket moda transportasi kereta api. Harga cabai yang melambung jadi komoditas pemicu kedua terbesar inflasi Banyuwangi di bulan Desember 2016 lalu. “Kenaikan harga cabai rawit mencapai 43,57 persen dari harga normalnya. Kenaikan harga ini menyumbang andil inflasi sebesar 0,16  persen terhadap inflasi,” jelas Amin.

Sementara itu, berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meredam harga cabai yang melangit di Banyuwangi. Salah  satunya dengan kegiatan Operasi  Stabilisasi Harga Pasar (OSHP) di sejumlah pasar di Banyuwangi. Kepala Bulog Banyuwangi, R. Guna Dharma Nugrahawan  menyebutkan, OSHP khusus  cabai rawit dilakukan sejak awal bulan Januari 2017 lalu.

OSHP cabai rawit dilakukan di delapan  titik. Rinciannya operasi pasar di lima tempat tetap dan tiga  tempat mobile. “Lima tempat  OSHP cabai rawit ada di depan  gudang Bulog Lemahbang, gudang Bulog Wonosobo, Gudang  Bulog Genteng, Gudang Bulog  Ketapang I, dan gudang Ketapang II. Sedangkan yang mobile dilakukan di pasar-pasar di Banyuwangi secara bergantian,” jelas Guna Dharma.

Harga yang ditawarkan Bulog, kata Guna Dharma, untuk cabai rawit saat ini yaitu Rp 60.000 per  Kg. Guna Dharma menuturkan, ada kenaikan harga cabai rawit  sebesar Rp 10.000. “Harga cabai  rawit yang kami tawarkan semula hanya Rp 50 ribu per Kg, sekarang menjadi Rp 60 ribu per Kg. Hal  ini disebabkan oleh harga cabai  rawit dari petani mengalami kenaikan,” imbuhnya.

Jumlah cabai rawit yang di distribusikan oleh OSHP kedelapan titik ini sejumlah 100 Kg per hari. Guna Dharma mengungkapkan, jumlah ini akan bertambah menjadi 200 kilogram  sesuai dengan permintaan masyarakat. “Cabai rawit dipasok dari Kecamatan Wongsorejo. Sudah ada petani cabai yang ditunjuk oleh Dinas Pertanian untuk menyetor cabai kepada  kami. Hingga saat ini jumlah  cabai rawit yang telah terjual ada  1,7 ton. 900 kilogram dari Wongsorejo, sementara 800 kilogram  sisanya dikirim dari Malang dan Situbondo,” jelasnya.

OSHP ini akan dilakukan terus  sampai harga cabai di pasaran  membaik. OSHP ini sudah memasuki minggu ketiga, namun  harga cabai di pasaran tetap  meroket. “Permasalahan harga cabai rawit yang meroket di  pasaran bukan kapasitas kami,  melainkan Dinas Pertanian. Namun melihat kondisi saat ini, harga cabai yang tinggi dimungkinkan disebabkan oleh curah hujan tinggi sehingga terjadi  kegagalan panen, serta distribusi yang kurang meluas,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas turut hadir dalam  operasi pasar di Pasar Banyuwangi  kemarin. Anas mengatakan, OSHP  diharapkan dapat memberikan informasi terhadap masyarakat  luas tentang harga bahan pokok dan khususnya cabai rawit.

“OSHP ini supaya dapat menjembatani masyarakat yang merasa mahal dengan harga bahan pokok yang ada di pasar. Selain OSHP, penyebaran informasi harga bahan pokok dilakukan melalui videotron,” pungkasnya.  Secxara terpisah, Syukron, seorang petani cabai rawit di Kecamatan Wongsorejo mengaku  prihatin dengan melonjaknya harga cabai.

“Cuaca ekstrem menyebabkan tanaman cabai  banyak yang terserang layu dan gosong, akibatnya sekarang panen cabai merosot, hanya 10-15 persen. Untungnya, kami masih tertolong dengan harga cabai yang sedang naik,” paparnya.

Syukron mengaku, pihaknya menjual harga cabai ke pengepul cabai di Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo. Harga cabai tersebut  juga ditentukan oleh pengepul.   “Biasanya pengepul menunggu  informasi dari Jakarta untuk membayar cabai rawit yang saya  setor. Harga mengikuti pasar induk. Saat ini harga di pengepul berkisar Rp 60 ribu hingga Rp  65 ribu,” tandasnya.

Hal yang senada diungkapkan oleh Wiji Santoso, Koordinator  Balai Penyuluh Pertanian (BPP)  di Kecamatan Wongsorejo. Wiji  mengatakan, ada 1320 hektare  lahan cabai rawit di Wongsorejo. Setiap hektare lahan cabai rawit dapat menghasilkan 6 Ton sampai  8 Ton cabai jika cuaca mendukung.

“Musim hujan yang dimulai Desember 2016 lalu, menyebabkan kelembaban tinggi dan kondisi ini cocok untuk per- kembangan jamur,’’ ujarnya. Menurut Wiji, tanaman cabai  rawit yang gagal panen biasanya diserang akarnya oleh jamur  Fusarium Sp.

Sehingga pertumbuhan tanaman tidak maksimal. Karena itu, kata dia, saat ini lahan cabai hanya menghasilkan 3 Ton-5 Ton per  hektare,” ungkapnya. Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan, melalui   Kepala Bidang Hortikultura, Eko Mulyanto menuturkan, mahalnya harga cabai rawit di pasaran disebabkan panjangnya mata rantai distribusi cabai rawit. Eko mengungkapkan, sekitar 40 ton cabai rawit hampir setiap hari  dikirim ke pasar induk Jakarta.

“Cabai  rawit di Banyuwangi ini melimpah. Panen cabai umumnya sudah  dimulai sejak bulan September lalu, dan baru pada bulan Desember  2016 dan Januari 2017 saja cuaca memburuk dan produksi menurun. Tentang masalah harga, pedagang  di pasaran cenderung mengikuti   harga cabai di pasar induk Jakarta.

Harga cabai di pasar induk Jakarta  jelaslah mahal, rata-rata Rp 100 ribu karena panjangnya rute yang harus  dilalui. Untuk menurunkan harga cabai rawit, salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan  memotong mata rantai tersebut,”  pungkasnya. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :