Tampung Orgil Jalanan, Sembuhkan Penyakit Tanpa Obat

0
285
REHABILITASI: Bambang Sugianto (kanan) di depan para penderita penyakit jiwa di Pondok Kasih Banyuwangi Waras, Dusun Tegal Pare, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar, kemarin.

Pondok Kasih Banyuwangi Waras (PKBW) berdiri tanggal 27 September 2011. Meski tergolong baru, tempat rehabilitasi kejiwaan di Dusun Tegal Pare, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar, itu sudah banyak memberikan manfaat bagi penderita penyakit jiwa.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-ALI NURFATONI, Muncar-

ORANG gila (orgil) masih banyak temukan di Banyuwangi. Mereka banyak yang berkeliaran di jalanan. apa pun pasti risi melihatnya. Sebab, dandanan orgil serba awut-awutan. Parahnya lagi, ada sebagian orgil yang mondar-mandir tanpa mengenakan busana alias bugil. Fenomena tersebut mengundang keprihatinan kalangan rohaniwan di bawah naungan Pondok Gabriel di Desa Tegalsari, Kecamatan Licin .

Untuk mengatasi problem kemanusiaan itu, tidak harus digelar razia. Lebih dari itu, dibutuhkan penanganan khusus. Salah satu caranya adalah menggunakan metode rehabilitasi. Pendek kata, untuk menindaklanjuti masalah sosial tersebut dibentuklah wadah dengan nama PKBW. Tempat rehabilitasi itu berada di kawasan tambak udang yang notabene jauh dari pemukiman penduduk.

Kemarin (9/8), wartawan koran ini ber hasil merekam aktivitas di tempat terapi para penderita penyakit jiwa di bawah naungan PKBW itu. Siang itu, suasana tambak sangat panas. Meski demikian, panasnya matahari siang itu langsung hilang ketika sampai di kompleks rehabilitasi orang gila. Ke datangan koran ini disambut baik Bambang Sugianto selaku pengasuh pondok tersebut.

Setelah berbincang-bincang di ruang tamu, pria 48 tahun itu mengajak wartawan koran ini ke ruang paling belakang. Di ruang itu, ada belasan pasien sedang berkumpul. Meski sedang berkumpul, mereka tidak sedang bergurau atau sedang bercakap-cakap. Mereka hanya tertegun dan sorot matanya kosong.

Wajah mereka tanpa ekspresi. Sangat terlihat jelas kondisi kejiwaan mereka sedang terganggu.Di ruang belakang yang dikeliling kawat itu, ada pasien yang sedang duduk, berdi ri, dan ada yang tidur-tiduran sambil me megang kepala. Adapula yang menundukkan kepala. Satu pria terlihat komat-kamit dengan suara tak jelas.Tak berapa lama, Bambang mem per kenalkan sebagian dari 18 pasien itu, mulai nama hingga alamat.

Yang lebih membanggakan, sebagian dari mereka justru sudah bisa memperkenalkan diri. ’’Nama saya Wawan. Saya dari Sidoarjo. Kalau bapak namanya siapa?” kata Wawan balik bertanya kepada koran ini sembari menuding dengan jari telunjuk. Bambang menjelaskan, belasan anak asuhnya itu mayoritas berasal dari luar kota Banyuwangi, di antaranya Sidoarjo, Surabaya, Malang, Kediri, dan Madura.

Loading...

Pasien dari Banyuwangi juga ada. ‘’Ini namanya Yosi Arianto, rumahnya Tukangkayu, Banyuwangi,” ungkap suami Rahel Tamaka, 48, itu. Namun demikian, sebagian pasien tersebut belum ingat jati dirinya. Nama,alamat, dan nama-nama anggota keluarganya sudah hilang dari ingatan mereka. Jika ada pasien yang mengalami seperti itu, pihak PKBW akan memberinya nama. “Kalau masih belum ingat, kita beri nama baru.

Ini namanya Mateus,” sebut Bambang sambil menunjuk salah satu pasien yang di maksud. Mayoritas pasiennya sudah menunjukkan peningkatan. Meski begitu, perkembangan satu pasien dan pasien lain berbeda-beda. ‘’Perkembangan satu dan yang lain tak sama. Itu karena sakitnya ada yang parah, ada juga yang sedang,’’ urai bapak dua anak itu.

Mengapa orgil yang berobat ke situ banyak yang sembuh? Ternyata Bambang menerapkan metode terapi yang sederhana, diantaranya melakukan kegiatan rutin jalan-jalan di pagi hari. Selain itu, pasiennya juga diajak menyusuri pinggiran tambak. Ada juga yang diajak olahraga, seperti bulu tangkis, bersepeda, bercocok tanam, menjahit, dan memberi makan ayam. “Jadi, terapinya nggak pakai obat-obatan,” jelasnya.

Selain aktivitas seperti itu, pihaknya juga memberi sentuhan rohani. Di pagi hari sebelum memulai aktivitas, misalnya, diawali doa bersama.’’Malam hari juga seperti itu. Agar pikiran bisa fresh. Di sini juga diputar musik-musik rohani. Mereka juga kami ajari membaca,” kata Bambang.Untuk mengecek kondisi kesehatan anak asuhnya, dua pekan sekali ada dokter yang datang.

‘’Agar tahu pasien saya ini sedang sakit ataukah tidak. Kita datangkan dokter umum dari Banyuwangi,” imbuhnya. Menurut Bambang, penyebab mereka sakit jiwa biasanya lantaran mengalami kepahitan hidup, seperti kesulitan ekonomi. ‘’Mayoritas mereka pakai jalan pintas dan menggunakan ilmu-ilmu gaib, akhirnya tidak kuat dan jadi seperti ini,” papar rohaniwan asal Dusun Kali Mati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, itu.

Setelah Pondok Banyuwangi Kasih Waras berdiri, beberapa pasien sudah bisa disembuhkan. ‘’Puji Tuhan, usaha kami ini berhasil. Sudah ada tiga orang yang sembuh. Sekarang ada yang kerja di Bali,” kata Bambang bangga. Pasien-pasien itu hasil razia jalanan. Selain itu, juga tidak sedikit keluarga pasien yang sengaja menitipkan si pasien ke pondok tersebut. ‘’Kita seminggu sekali operasi, kadang dapat kadang tidak,” ujarnya.

Bagaimana mekanisme rehabilitasi di pondok tersebut? Pertama, pasien di bersihkan kemudian ditempatkan di ruang isolasi. Di tempat itu, pasien tidak diberi ma kan selama 1×24 jam. “Yang baru datang, nggak boleh makan alias puasa selama sehari semalam. Misalnya datang pukul 10 pagi, baru bisa makan esok harinya pukul 10 pagi,” jelasnya.

Pasien laki-laki dan perempuan ditempatkan di ruang yang berbeda. Di tiap kamar disediakan toilet yang bersih. ’’Sekarang mereka kalau mau buang air sudah tahu tempatnya,” kata Ari, salah satu pembina di pondok tersebut.Dari lima kamar yang ada, tiga ruang sudah digunakan. Dua kamar lain digunakan sebagai ruang isolasi. Enam kamar lain dalam proses penyelesaian. Semua kamar itu akan di gunakan menampung pasien. (radar)

Loading...

Baca Juga :