Ada yang Menangis, Ada yang Tersenyum

0
607

ekspresi-peserta-ketika-menjalani-khitan-di-di-ruang-laboratorium-unair-kampus-banyuwangi-pagi-kemarin


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

101 Anak Duafa Jalani Khitan Gratis

BANYUWANGI – Ruangan laboratorium Universitas Airlangga (Unair) Kampus Banyuwangi tampak riuh pagi kemarin. Dengan didampingi  orang tuanya, anak-anak kaum duafa  banyak yang meringis kesakitan saat  mengikuti khitan gratis.

Tidak semua menangis, ada juga anak yang tersenyum lebar saat proses khitan berlangsung. Khitan untuk duafa kali ini merupakan acara bakti sosial (baksos)  dari Program di Luar Domisili (PDD)  Unair Banyuwangi dengan menggandeng pihak Fakultas Kedokteran  Unair Surabaya, Dinas Kesehatan  (Dinkes) Banyuwangi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banyuwangi, dan  Baznas Banyuwangi.

Total ada sekitar 101 anak Duafa dari seluruh kecamatan di  Banyuwangi yang mengikuti  khitan gratis itu. Prof. Dr. Suryanto MSi, koordinator PDD Unair Banyuwangi, mengatakan khitan duafa itu merupakan salah satu rangkaian Dies Natalis Unair yang ke-62.

Selain khitan duafa, ada juga kegiatan simposium, kuliah umum tentang kedokteran olahraga, kuliah umum tentang kesehatan mental yang diikuti guru,  siswa, dan wali murid, serta kegiatan lain. ”Total ada 22 kegiatan Dies Natalis, salah satunya khitan  duafa,” kata Suryanto.

Khusus untuk khitan duafa ini  memang sengaja diberikan untuk  lebih menegaskan bahwa Unair  Banyuwangi hadir bukan hanya untuk mengembangkan nilai akademik saja. Akan tetapi, Unair juga hadir dalam peran-serta membantu sesama yang memang  sedang membutuhkan.

”Ini dharma bakti kita kepada masyarakat, khususnya yang ada di Banyuwangi. Mudah-mudahan bermanfaat,” tambahnya.  Kepala Dinkes Banyuwangi,  dr. Widji Lestariono mengatakan,   dari sisi kesehatan, khitan merupakan hal sangat positif untuk menghindarkan manusia dari  serangan kanker penis.

Jika tidak  dikhitan, ditakutkan kotoran  yang ada di dalam ujung kulit  penis akan semakin menggumpal  dan itu bisa memicu timbulnya penyakit. ”Kalau sudah dikhitan, tidak ada lagi kotoran yang menggumpal di ujung kulit penis,  tentunya ini baik untuk kesehatan,” ujar Rio—sapaan akrab- nya—didampingi Ketua IDI Banyuwangi, dr. Yos Hermawan.

Rio menambahkan, 101 anak duafa ini merupakan anak-anak yang dipilih oleh Dinkes Banyuwangi melalui 45 Puskesmas yang  ada di Banyuwangi. Jauh-jauh  hari sebelumnya, pihak Puskesmas sudah blusukan ke berbagai kampung untuk mencari kaum  duafa yang sudah waktunya   dikhitan.

”Awal kami kesulitan mencari peserta, tapi setelah kami beri tahu bahwa yang khitan dapat bingkisan dan uang saku dari Baznas Banyuwangi langsung banyak yang ikut khitan ini. Ya, namanya juga anak-anak,” tandasnya lantas terkekeh.

Hadiah memang bisa menjadi  pelecut semangat anak agar mau  untuk dikhitan. Hal ini juga   dirasakan oleh salah satu orang tua anak yang dikhitan yakni Agus Arifin. Pria asal Lingkungan Kebun Jeruk, Kelurahan Lateng ini sangat  kaget saat anaknya sendiri yang  meminta dikhitan di waktu pihak   Puskesmas datang ke sekolahnya.

”Saya sudah dua kali gagal mengkhitan anak saya karena tiba-tiba  dia membatalkan niatnya saat akan dikhitan, Tapi alhamdulillah dalam kegiatan ini dia yang meminta sendiri, tapi syaratnya harus dibelikan barong kucing- kucingan,” ujar ayah Gusti Tirta  Darmawangsa itu.

Ketua Komisioner Baznas Banyuwangi, Samsudin Adlawi, mengatakan pihaknya mengucapkan terima kasih kepada PDD Unair Banyuwangi yang telah mengajak Baznas menggelar acara baksos khitanan anak duafa.  Sebelumnya, Baznas bersama  IDI Banyuwangi sudah tiga kali  menggelar acara yang sama di tiga kecamatan di Banyuwangi.

”Alhamdulillah sambutan masyarakat miskin sangat baik, mereka merasa terbantu dalam  mengkhitankan anaknya. Sama dengan di tiga kecamatan sebelumnya, Baznas juga membantu setiap peserta khitan di Unair  Banyuwangi ini berupa satu paket berisi perlengkapan songkok, baju takwa, sarung dan sandal baru senilai Rp 300 ribu ditambah uang saku  Rp 200 per orang,” ujar Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi itu.

Jika ditotal, bantuan dari  Baznas Banyuwangi kepada anak duafa yang dikhitan inisekitar Rp 50 juta. Meski  sebelumnya banyak anak yang   menangis histeris karena  kesakitan saat dikhitan, namun hal itu langsung berubah menjadi senyuman lebar saat  proses khitan selesai dan bingkisan dan uang saku ada di tangan anak-anak tersebut.

”Sangat terbantu sekali, sudah khitannya gratis anak kami juga malah mendapatkan bingkisan gratis. Terima kasih,” ujar Suhadi, 35,  salah satu orang tua lain dari Dusun Sembulung, Cluring. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :

Baca Juga :