Mengenang Tsunami Banyuwangi 1994, Gelombang 13 Meter Tewaskan Ratusan Jiwa

  • Bagikan
Foto : wikipedia.org

Genap 27 tahun sudah bencana alam dahsyat melumat kawasan pesisir selatan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tepatnya di hari Jumat Pon tanggal 3 Juni 1994 silam, sekitar pukul 02.00 WIB gelombang tsunami setinggi 13,9 meter menelan 229 korban jiwa dan puluhan korban hilang lainnya belum tercatat.

Tsunami Banyuwangi tersebut menyapu sejumlah pemukiman di beberapa pantai. Seperti di pantai Rajegwesi, Pancer, Pulau Merah, Lampon dan pantai Grajagan. Hunian penduduk, toko dan kapal-kapal nelayan yang bersandar hancur bersisa puing-puing saja.

Tercatat di BMKG, tsunami Banyuwangi 1994 tersebut dipicu oleh gempa tektonik bermagnitudo 7,8 di Samudera Hindia. Dengan kedalaman yang cukup dangkal, yakni 18 kilometer di bawah laut.

Meskipun sudah seperempat abad berlalu, namun nestapa itu masih tersimpan kuat diingatan mereka yang berhasil selamat. Sebab itu pula, tugu peringatan tsunami Banyuwangi 1994 didirikan di Dusun Pancer Desa Sumberagung. Sebagai tanda jika Allah pernah menunjukkan kuasanya di Banyuwangi.

Cerita korban selamat pada peristiwa tersebut pun berhasil di telusuri TIMES Indonesia dari salah satu kampung nelayan di pantai Pancer. Mulyono (70) dan anaknya Rahmat (47) adalah korban yang berhasil selamat kala itu.

Saat peristiwa terjadi, Mulyono masih berusia 43 tahun dan anaknya yang hanya lulusan SMP berusia belum genap 20 tahun. Kala itu, selepas azan Isya Mulyono pergi keluar rumah untuk membeli solar. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan anaknya yang kemudian berpamitan hendak nongkrong bersama kawan-kawannya.

Sekitar pukul 21.00 WIB Mulyono membawa solar yang dibelinya untuk dinaikkan ke atas perahu kecil miliknya. Maksud nian sebagai cadangan bahan bakar berangkat melaut. Setelah itu Mulyono pulang ke rumah untuk mengambil bekal. Sebatang rokok dibakarnya sembari menunggu waktu berangkat mencari ikan.

“Pulang saya ke rumah. Mendengarkan radio sambil menunggu rokok habis. Anak belum pulang itu, pamit keluar,” kata Mulyono, Kamis (3/6/2021).

Firasat dan Pertanda Alam

Tanpa terasa Mulyono pun tertidur di kursi bambu. Saat terbangun jam sudah menunjukkan pukul hampir tengah malam. Mulyono pun bergegas pergi ke bibir pantai, tepat dimana perahunya diparkir.

Saat itu dia merasakan hawa yang cukup aneh. Dari arah laut selatan, air laut cukup tenang dan tidak banyak ombak yang tercipta. Padahal malam itu bulan tidak dalam kondisi purnama, dimana semestinya laut dan cuaca sedang bagus-bagusnya untuk mencari ikan.

“Apa ya, senyap pokoknya. Angin juga nggak ada. Anehnya banyak burung-burung itu terbang, biasanya kan kalau malam nggak ada ya. Lha itu banyak,” terangnya.

Benar saja, tak lama kemudian laut mulai menunjukkan gejala akan terjadi tsunami. Perlahan air laut mulai surut. Sampai dititik itu, Mulyono masih belum menyadari tanda tersebut sebagai awal mula tsunami. Namun insting Mulyono berkata lain, dia pun mengurungkan niatnya melaut dan kembali pulang ker umahnya.

“Lho lho lho kok airnya surut. Jadi merinding saya, lah pulang saja lah. Kok nggak enak firasat saya,” katanya.

Setelah sampai di rumah, Mulyono kembali menyalakan radio bertenaga baterai miliknya. Dicarinya saluran yang menyiarkan dongeng-dongeng ataupun kisah legenda.

“Ketemu, ada cerita ‘Trinil’ waktu itu. Sambil nunggu si Rahmat anak saya balik saya duduk di ruang tengah. Kok lapar, terus saya ke belakang mau makan,” akunya.

Suara Gemuruh

Setelah menyantap sepiring nasi, Mulyono selanjutnya ingin buang air kecil. Di tahun itu, mayotitas rumah penduduk dibangun terpisah dengan kamar mandi. Disitulah Mulyono mendengarkan suara gemuruh disertai angin kencang yang berhembus.

“Ada gemuruh mirip hujan, ada angin kencang juga. Kok lama kelamaan suaranya mirip air, ternyata benar ombak laut menuju daratan,” katanya.

Mulyono pun berlari menyelamatkan diri. Meski nyawa diujung tanduk, sempat terlintas dipikirannya tentang anaknya si Rahmat. Langkah seribu Mulyono pun tak sanggup menandingi kecepatan hempasan gelombang tsunami. Tubuhnya pun terbawa gelombang.

Beruntung, sebuah pohon kelapa menyelamatkan nyawa Mulyono. Tubuhnya tertahan di pohon sehingga tidak menyebabkan dirinya terhempas terlalu jauh. Namun di sekujur tubuhnya didapati luka robek akibat goresan puing-puing yang terbawa.

“Kejadiannya sangat cepat, saya lari tapi air lebih cepat. Untung ada pohon kelapa dan saya bertahan memeluk pohon di sana. Alhamdulillah Rahmat juga selamat, ternyata dia ke Srono sama teman-temannya,” katanya.

Selamat Meski Tertimpa Atap Rumah

Tak hanya Mulyono saja, Atim (68) salah satu warga setempat juga menjadi korban selamat atas peristiwa tsunami Banyuwangi 1994 tersebut. Beberapa jam sebelum tsunami terjadi, Atim dan keluarganya hendak beristirahat malam. Malam itu sang istri sedang ke Surabaya.

Karena suasana yang cukup aneh, hingga larut malam diantara mereka tidak ada yang bisa memejamkan mata. Samar-samar kemudian terdengar gemuruh dari arah laut. Anak tertuanya juga mendengar hal serupa. Mereka beranggapan, suara tersebut bersumber dari truk yang melintas atau suara helikopter yang melintas.

“Saya pikir itu suara helikopter marinir di Lampon sedang latihan. Tapi latihan kok tengah malam. Saya keluar rumah untuk cari sumber suara itu juga tidak ada,” kata Atim.

Setelah itu dia kembali ke dalam rumah. Rasa kantuk mulai menyerang. Tidur belum terlelap, gelombang dahsyat tiba-tiba saja memasuki rumahnya. Merobohkan seluruh bangunan. Benar-benar sebuah situasi dimana Atim dan keluarganya begitu dekat dengan kematian.

“Rumah langsung ambruk menimpa saya, apakah ini yang namanya kiamat. Saya hanya bisa pasrah dengan Allah. Suara anak-anak tidak juga terdengar,” katanya.

Selanjutnya Atim pun mencoba meloloskan diri dari reruntuhan rumah. Dengan kondisi air masih menggenang pemilik warung ikan tersebut berlari sekuat tenaga menuju masjid terdekat. Betapa kagetnya dia, sebuah masjid masih tegak berdiri sedangkan rumah-rumah lainnya roboh.

Atim bercerita, banyak rumah yang roboh. Puing-puing berserakan, banyak mayat yang juga bergelimpangan. Mereka yang selamat menangis dan berteriak kesakitan meminta tolong.

“Allah maha besar, sekejap puing-puing berserakan. Banyak yang menjerit kesakitan. Banyak tubuh-tubuh orang yang bergelimpangan, entah masih hidup atau tidak. Saya takut benar-benar takut,” katanya.

Dalam sekejap, ratusan warga kawasan Pancer dilaporkan meninggal. Dalam peristiwa tersebut, ibu mertua Atim juga menjadi korban. Awalnya, mertua Atim ditemukan masih dalam kondisi selamat. Meskipun ada pecahan kaca yang menancap di pelipis matanya.

“Sebenarnya mertua ditemukan selamat, namun diantara keduanya matanya tertancap pecahan kaca. Saat pecahan kaca dicabut sendiri oleh beliau, langsung meninggal,” ucap Atim sembari meneteskan air mata.

Ada Keajaiban Sang Pencipta

Meskipun bencana alam tersebut telah memporak-porandakan hunian warga dan menyebabkan lautan mayat manusia, namum ada keajaiban ilahi yang jua tercipta. Seorang bayi laki-laki umur tiga bulan bernama Yatim ditemukan selamat meski tertimpa reruntuhan rumah. Tubuh mungilnya terhimpit atap dan tembok rumah yang ambruk. Sebatang kayu telah mencegah himpitan tersebut menewaskan si bayi ini.

Ibunya bernama Supinah, warga Desa Sraten, Kecamatan Cluring yang juga masih kerabat Atim. Saat tsunami terjadi, Supinah dan bayinya bermalam di rumah Atim.

“Bayi itu ditemukan paginya. Ya kira-kira setengah enam pagi. Terhimpit reruntuhan rumah saya. Tapi tidak luka, hanya dehidrasi saja. Kalau sekarang sudah dewasa, sudah 27 tahun,” ungkap Atim.

Musibah tsunami ini juga menjadi perhatian pemerintahan kala itu. Mendiang Presiden Soeharto dan Harmoko Menteri Penerangan, melakukan kunjungan ke lokasi bencana tsunami Banyuwangi dengan membawa bantuan.

Dari informasi yang beredar, dalam kunjungan tersebut mendingan Soeharto sempat mengadopsi 5 anak korban tsunami 1994. Keseluruhan anak tersebut merupakan anak nelayan korban tsunami Banyuwangi yang kehilangan seluruh keluarganya.

Dengan adanya peristiwa Tsunami Banyuwangi 1994 tersebut, tentunya memberikan edukasi bagi warga pesisir selatan Bumi Blambangan. Selain dibangun monumen, masyarakat kawasan dampak tsunami di Banyuwangi juga menjadikan Jumat Pon sebagai hari berdoa bersama sekaligus hari libur bagi nelayan setempat. (*)

Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/350593/mengenang-tsunami-banyuwangi-1994-gelombang-13-meter-tewaskan-ratusan-jiwa

  • Bagikan
%d bloggers like this: