Takut Tsunami, Ratusan Warga Pancer Ngungsi ke Gunung

  • Bagikan
Foto: detik

BANYUWANGI – Ratusan warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena takut terjadi bencana tsunami pascagempa bumi yang terjadi di Kabupaten Jembrana Bali, Rabu (24/7/2019) pagi.

Bukit Babatan dan Gunung Salakan yang ada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, menjadi jujugan ratusan warga. Mereka mencoba menjauh dari pantai, karena takut tsunami akan muncul pascagempa yang terjadi.

“Benar mas, warga sempat panik tadi. Pancer memang perkampungannya di dekat pantai. Jadi mereka naik semua ke Babatan dan Salakan,” ujar Budi, warga sekitar Pancer.

Dilansir dari detikcom, kepanikan warga sangat beralasan karena mereka trauma dengan bencana tsunami yang terjadi pada tahun 1994 lalu. Seluruh bangunan rata dengan tanah tersapu tsunami lebih dari 12 meter.

“Karena trauma sampai saat ini masih ada yang diatas bukit untuk menyelamatkan diri. Sebagian lagi sudah turun,” tambahnya.

Hingga Kepala Desa Sumberagung, Vivin dan BPBD Banyuwangi membujuk masyarakat untuk kembali ke rumah. Bahkan, kata Budi, status aman kondisi Pantai Pancer sempat diumumkan melalui pengeras suara milik masjid setempat.

“Bu Kades dan BPBD sempat meredam kepanikan warga. Bahkan mengajak turun bareng BPBD tadi,” ujar pria yang juga Ketua Pokmaswas Pantai Mustika, Pancer, Banyuwangi.

Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Eka Muharram membenarkan kejadian tersebut.

“Ratusan masyarakat mengungsi karena mengaku mendengar sirine peringatan dini tsunami yang dipasang di Dusun Pancer berbunyi. Sehingga masyarakat langsung mencari tempat yang lebih tinggi,” kata Eka.

Padahal, kata Eka, sirine yang berbunyi itu bukanlah sirine dari alat peringatan dini tsunami. Melainkan sirine milik perusahaan tambang yang berbunyi pada saat gempa Bumi bermagnetudo 4,6 SR terjadi.

Baca :
184 Desa di Banyuwangi Rawan Banjir Jelang Musim Hujan, BPBD Imbau Waspada

Sebab meski pusat gempa terjadi di Kabupaten Jemberana Bali, lanjut Eka, getarannya terasa hingga ke sejumlah wilayah di Banyuwangi termasuk wilayah Pancer, Kecamatan Pesanggaran.

“Yang bunyi itu adalah sirine dari kawasan tambang dan itu untuk intern, untuk memberikan peringatan kepada karyawan disana terkait adanya gempa. Cuma bunyi itu kemudian kedengaran keluar yang itu kemudian menimbulkan kepanikan warga. Sehingga mereka banyak yang mengungsi,” kata Eka.

Eka menambahkan, BPBD Banyuwangi bersama relawan telah memberikan pengertian kepada masyarakat dan memintanya kembali ke rumahnya masing-masing. Sebab gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami.

Sebelumnya, gempa bumi bermagnetudo 4,9 mengguncang Kabupaten Jemberana Bali, Rabu (24/7/2019) pagi. Pusat gempa terjadi 8.98 lintang selatan, 114 Bujur Timur atau 84 Barat Daya Kabupaten Jemberana Bali.

Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami, namun guncangannya terasa hingga ke Denpasar Bali, Kabupaten Banyuwangi, Gianyar dan Kabupaten Tabanan Bali.

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: