Penyu Lekang Mati di Pantai Pulau Santen

  • Bagikan
Foto: Radar Banyuwangi – Jawa Pos

BANYUWANGI – Seekor penyu jenis lekang ditemukan mati di pesisir Pantai Pulau Santen, Lingkungan Karanganom, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi, Rabu (20/5/2020) sore.

Dilansir dari Radar Banyuwangi – Jawa Pos, penemuan tersebut merupakan yang kedua kalinya. Lima hari lalu, warga juga menemukan penyu terdampar yang kondisinya sudah menjadi bangkai.

Salah seorang nelayan setempat bernama Amsori awalnya mengira penyu yang terdampar masih hidup. Namun, setelah diamati ternyata penyu sudah mati.

“Kalau masih hidup dan terdampar biasanya oleh warga dilepas kembali ke laut,” ujar Amsori.

Selanjutnya, dia langsung menghubungi petugas Dinas Perikanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF).

Dan tak lama kemudian, tim segera menuju ke lokasi untuk melakukan penanganan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP).

Ketua Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) Wiyanto Haditanojo mengaku mendapat informasi jika ada penyu mati dari Masyarakat Kelompok Nelayan Pulau Santen.

“Kami langsung terjun ke lokasi. Disana memang ada penyu jenis lekang yang mati,” kata Wiyanto Haditanojo.

Pria yang akrab disapa Wiwit itu mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan secara visual, penyu yang diketahui berjenis penyu lekang (Lepidochelys Olivacea) dengan ukuran panjang karapas mencapai 69 cm dan lebar 64 cm. Penyu ditemukan dalam keadaan mati dengan kondisi mengeluarkan busa dari mulutnya.

“Tidak ada luka, seluruh badan penyu masih utuh,” kata Wiwit.

Sementara itu, dilihat dari kondisi penyu yang masih utuh, diperkirakan kematiannya antara 2 hari lalu. Sedangkan usia penyu diperkirakan mencapai 15 tahun berjenis kelamin betina dan siap bertelur.

Masih kata Wiwit, Pulau Santen merupakan salah satu tempat bertelurnya penyu-penyu yang ada di Banyuwangi. Upaya sosialisasi kepada masyarakat terus digalakkan dan menjadi cara yang efektif untuk menjaga keberlangsungan hidup dan populasi penyu yang ada di Banyuwangi.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Banyuwangi BKSDA Jawa Timur Purwantono mengungkapkan, penyebab kematian penyu masih belum diketahui secara pasti. Secara visual memang mengeluarkan busa di bagian mulut. Hal ini diduga ada permasalahan di bagian perut atau dalam organ tubuhnya.

“Untuk mengetahui lebih pasti penyebab kematiannya harus dilakukan nekropsi atau otopsi,” jelas Purwantono.

Bangkai penyu tersebut langsung dikubur usai diperiksa dan diukur. Masyarakat sekitar Pulau Santen menyadari penyu adalah hewan yang dilindungi, sehingga masyarakat langsung melaporkan kepada dinas dan petugas terkait.

Sementara itu, Ketua RT setempat Slamet Efendi mengatakan, kawasan Pantai Pulau Santen kerap menjadi jujukan penyu bertelur.

“Warga sekitar pantai berperan aktif menjaga konservasi lingkungan, termasuk menjaga kawasan jika ada penyu bertelur,” kata Slamet Efendi.

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: