Petani, Santri, Hingga Nelayan Hormat Bendera

0
1678

Warga-sipil-tampak-khidmat-mengikuti-upacara-peringatan-HUT-RI-ke-71-di-Dusun-Pasar,-Desa-Sumberarum,-Kecamatan-Songgon,-kemarin


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SONGGON – Momen kemerdekaan RI ke-71 digelar di sejumlah daerah di Tanah Air kemarin. Petani, santri, pedagang, dan nelayan, ikut menghadiri upacara Kemerdekaan RI itu. Bahkan, kalangan buruh perkebunan di  Dusun Pasar, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, ikut hormat bendera dalam upacara kemerdekaan itu.

Upacara tersebut diikuti warga sipil yang tinggal di kawasan lereng Gunung Raung tersebut. Mulai kalangan petani, buruh, pencari pakis, hingga pedagang sayur, ikut berpartisipasi dalam upacara yang digelar  di halaman rumah warga itu.

Bahkan, anak-anak juga ikut berbaris pada momen upacara tersebut. Yang menarik, setiap warga mengenakan pakaian sesuai pekerjaannya sehari-hari. Artinya, mereka tidak menggunakan seragam khusus layaknya  upacara.

Sangat mengharukan ketika kalangan kakek-kakek dan nenek-nenek terlihat khidmat mengikuti upacara kemerdekaan tersebut. Upacara tersebut disambut suka cita oleh warga setempat. Bahkan,  sebagai dari mereka justru tidak pernah merasakan upacara sepanjang hidupnya.

“Ya saya baru pertama ini merasakan upacara bendera,” kata Saijah, seorang nenek berusia 80 tahun. Sementara itu, upacara kemerdekaan juga digelar di Pulau Tabuhan. Di Pulau Tabuhan, kegiatan kemerdekaan dimulai   sejak hari Selasa (16/8) malam.

Di sana para nelayan, mahasiswa, dan relawan, melakukan renungan.  Mereka juga melakukan  camping di pulau seluas 5,5  hektare tersebut.  Tidak hanya itu, setelah upacara selesai, kegiatan lain, seperti lepas 71 ekor tukik dan transplantasi 71 terumbu karang, juga dilakukan di seputar Pulau Tabuhan.

”Peserta kurang lebih ada  300 orang. Lepas tukik dan transplantasi   merupakan implementasi kerja nyata para nelayan,” kata Ikhwan Arief, ketua Kelompok Samudera Bakti. Selain di Pulau Tabuhan, upacara kemerdekaan juga dilakukan di pantai lain, di Pantai Klopoan, Desa Bangsring.

Personel Satpolair Banyuwangi, nelayan, dan pemacing melakukan upacara di lokasi itu. Upacara yang dipimpin Kasatpolair AKP Subandi itu juga tampak khidmat. Selain di pantai, upacara bendera juga dilakukan di bawah  laut di Selat Bali.

Kali ini yang  melakukan upacara bendera  adalah personel Kapal Negara (KN) Grantin P211 yang memang sedang patroli di Selat Bali. Di kedalaman 17 meter sebanyak 17 personel KN Grantin ikut upacara. ”Kurang-lebih 10 menit kita berhasil kibarkan bendera Merah Putih di bawah laut dan mengheningkan cipta bersama-sama. Semoga Indonesia semakin  jaya,” tegas Kapten KN Grantin,  Moh. Firmawan.

Ada yang berbeda dalam upacara  HUT ke-71 RI di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Ulum, Desa Bengkak, Wongsorejo, kemarin. Jika biasanya upacara   kemerdekaan seluruh peserta memakai celana panjang dan berbaju rapi, tahun ini tidak.

Seluruh peserta dan petugas upacara laki-laki memakai sarung dan songkok sebagai identitas santri. Upacara kemerdekaan itu dilakukan tepat pukul 06.30. Prosesi upacara kemerdekaan hampir  sama dengan upacara biasa. Hanya saja saat pembina upacara menyampaikan amanat setelah bendera Merah-Putih berkibar   kemarin, pekik “Mer deka”  diucapkan pembina upa cara dijawab dengan serentak oleh  seluruh peserta upacara dengan  kalimat takbir “Allahu Akbar”.

Hari kemerdekaan juga  diperingati para penambang belerang yang tinggal di Kampung Penambang, Dusun Kebundadap, Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Sekitar 50 penambang berbagai usia tampak hormat menghadap bendera Merah-Putih  yang dikibarkan di tengah  perkebunan cengkih dan karet yang mengelilingi lokasi tersebut.

Upacara kemerdekaan RI juga digelar di base camp Pokmas  Maskot, Kampung Ujung kemarin. Berbeda dengan upacara pada  umumnya, peserta upacara ala rakyat ini boleh mengenakan  pakaian apapun tanpa harus  formal atau resmi.

Ada yang  mengenakan pakaian ala pejuang kemerdekaan, pakaian komunitas,  dan ada juga yang memakai  pakaian sehari-hari. Ramang Rameli Rakasiwi, penyelenggara upacara rakyat mengatakan, sisi  yang berbeda pada upacara ini  dilihat dari pakaian yang dipakai.

Peserta tidak memakai seragam  atau pakaian resmi, melainkan memakai pakaian selayaknya  yang mereka punya. (radar)