Diyakini Warga sebagai Tempat Persemayaman Raja

0
121

Situs-Prabu-Blambangan-VIII-di-Dusun-Sugihwaras,-Desa-Bumiharjo,-Kecamatan-Glenmore,-kemarin.

DESA Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, termasuk daerah yang lokasinya di lereng Gunung Raung. Desa yang berbatasan dengan hutan milik Perhutani KPH Banyuwangi Barat itu memiliki banyak situs bernilai sejarah cukup tinggi.

Di desa itu ada petilasan Maharesi Markandeya, salah satu resi yang diyakini sebagai penyebar Hindu pertama di Jawa. Beberapa tempat peribadatan  untuk mengenang keberadaan orang suci itu juga banyak di desa itu, seperti Beji, Pura Gumuk Kancil,  dan yang paling mudah dijangkau adalah Pura  Girimulyo.

Di sisi timur Pura Girimulyo, umat Hindu sedang membangun tempat suci baru yang di anggap bersejarah. Tempat itu diyakini  petilasan Prabu Bhima Koncar atau yang  dikenal dengan nama Minak Sumedhe, atau Dalem Sri Juru, raja Blambangan VIII dari raja  pertama Arya Wiraraja.

Bangunan petilasan itu terdiri atas dua bagian  utama, yakni bangunan yang memiliki empat pilar utama memayungi sebongkah batu besar dengan patung raja yang diidentikkan Prabu Minak Koncar. Secara arsitektur, bangunan yang  dipagari dinding bata merah itu me madukan  unsur Bali dan Jawa.

Bentuk atap lebih condong  ke model Jawa, tapi bagian pelengkap, seperti  plangkiran di salah satu pilar cukup kental unsur Bali. Sementara itu, bangunan lain merupakan pura petilasan Prabu Blambangan. Proses penemuan situs itu setelah melalui  berbagai proses.

Loading...

Keterangan Slamet, 52, pangempon tempat itu, mengatakan salah satu tokoh kampung yang juga pemangku pura, yakni almarhum Pinandita Pemangku Satra, menyampaikan lokasi itu merupakan petilasan  orang besar. “Tidak dijelaskan siapa orang  besar itu,” katanya.

Lokasi itu dulu hanya diberi tetenger. Kemudian, setelah banyak rombongan dari anak turun Raja Blambangan yang tinggal di Bali,  ditambah berbagai kajian baik sejarah maupun spiritual, akhirnya lokasi itu diduga petilasan  Sri Juru.

“Sejak awal Pak Mangku Satra sudah punya wisik (bisikan) bahwa tempat itu merupakan petilasan,” ujarnya.  Nyoman Suasa yang kini mejadi mangku anom di pura petilasan itu mengungkapkan,  petilasan itu merupakan pamereman atau  makam raja Blambangan VIII yang gugur dalam pertempuran.

Dari cerita yang berkembang, raja Blambangan itu gugur saat ber empur dengan Patih Kebo Ularan. Patih itu merupakan tangan kanan Prabu Dalem Watu Renggong, raja yang berkuasa di Kerajaan Klungkung saat itu. Pertempuran itu sebenarnya  karena salah paham di antara keduanya.

Padahal, saat itu perintah Prabu Watu Renggong kepada patihnya meminta Prabu Sri Juru menikahi adiknya. “Intinya, Patih Kebo Ularan diperintah mengajak raja agar bersedia menikahi adik raja Klungkung. Tapi karena ada salah paham hingga beradu kesaktian, menyebabkan  raja Blambangan gugur,” terang Nyoman Suasa.

Dalam pertempuran itu, raja Blambangan dipenggal. Tubuhnya dimakamkan di petilasan di Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore. Kepalanya dibawa ke Bali untuk dijadikan bukti. “Raja Klungkung marah, sampai saat   ini semacam ada perasaan bersalah dari anak keturunan raja Klungkung,” ucap Nyoman.

Dengan adanya petilasan raja Blambangan  itu, anak turun raja Blambangan menjadi lega.  Mereka tidak lagi bingung mencari jejak leluhurnya. “Para keturunan raja Blambangan VII sering datang,” katanya. Keberadaan situs ini dinilai sangat bermanfaat untuk kegiatan pendidikan dan mengenal sejarah  leluhur Blambangan.

Tidak hanya umat Hindu, semua warga di Banyuwangi harus memiliki  kepedulian terhadap sejarah leluhur dengan  menjaga situs itu. “Semua boleh ke sini, tidak hanya umat Hindu,” ungkapnya.   Terkait biaya pemugaran, semua dana masih diambil dari Pasemetonan Ageng Dalem  Blambangan, yakni anak cucu raja Blambangan   yang ada di seluruh Nusantara, khususnya di  Bali.

“Kegiatan pembangunan ini masih ditanggung umat dan anak keturunan raja Blambangan di jagat raya,” ucapnya. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :