Bertemu Profesor Universitas Islam Madinah

0
205
Prof. Musa Muhammad (kanan) saat memberikan bimbingan tesis ke mahasiswa Universitas Islam Madinah.

PELAYANAN Panji Mas Wisata ke jamaah bertambah. Kali ini, dr. Riska Yulinta Viandini. MMR membantu jamaah yang sedang dilanda sakit. Sebagai tenaga medis Rumah Sakit Fatimah Banyuwangi, Riska mengobati jamaah yang kondisi kesehatannya menurun.

Secara kebetulan Riska bersama keluarganya ikut dalam rombangan umrah Panji Mas Wisata. Selama di Makkah dan Madinah, dia aktif menanyakan kondisi kesehatan jamaah. Saat ada yang mulai menurun kesehatannya dia langsung memberikan pertolongan.

“Ini masih dalam kondisi normal, biasa saja karena disebabkan faktor perubahan cuaca. Di sini cuacanya lebih kering dan lembab sehingga dehidrasi akan cepat mengenai jamaah,” kata anak wagianto, pensiunan guru SMKN 1 Banyuwangi ini.

Salah satu dosen Stikes Banyuwangi ini menjelaskan, saat berada di Tanah Suci hendaknya para jamaah banyak minum air Zamzam. Jamaah tinggal meminum dan mengambil dari tempat yang disediakan di sekitar Masjid Nabawi.

Air zamzam sangat memberikan manfaat bagi kebugaran kesehatan karena mengandung zat flouride yang dapat membunuh kuman. Untuk melindungi kesehatan selama di Tanah Suci, jamaah sebaiknya menggunakan masker terutama saat-saat bepergian, karena dapat terhindar dari serangan penyakit yang disebabkan karena karena debu atau penyakit menular akibat kontak dengan sumber virus.

Di samping itu, jamaah harus selalu menjaga pola makan, baik yang berhubungan dengan ketepatan waktu makan, maupun yang berhubungan dengan menu dan gizi yang dibutuhkan tubuh. Hendahnya jamaah mengonsumsi jatah makanan selagi masih hangat dan segar.

Untuk jamaah yang sakit diberi suplemen yang di dalamnya memiliki komposisi vitamin B kompleks yang berfungsi untuk melindungi sel-sel saraf. Kekurangan vitarnin-vitamin tersebut menyebabkan gejala seperti pegal-pegal atau tegang pada otot, atau badan terasa kaku.

Loading...

Pada kekakuan otot, maka akan terasa badan sangat berat sehingga diperlukan tenaga lebih untuk bergerak. “Vitamin B kompleks dapat digunakan untuk mengurangi gejala di atas, dan jangan lupa istirahat yang cukup, “jelas dokter muda ini.

Sementara itu, di sela-sela menunaikan salat fardhu di Masjid Nabawi kami bertiga (Abdul Latif Harun, Utomo Dauwis dan penulis) bertemu dengan seorang profesor bidang ekonomi islam. Dia adalah Prof. Musa Muhammad,  guru besar di Universitas Islam Madinah.

Meski di masjid, kesibukan Musa sebagai tenaga pengajar ekonomi Islam tidak putus. Beberapa Mahasiswanya datang silih berganti meminta petunjuk tentang tesis yang dikerjakan.

Suasananya akrab dan kekeluargaan. Tidak ada sekat antara dosen dan mahasiswa. Terkadang tertawa bersama namun juga serius. Menariknya sang murid juga tidak mengajukan jadwal janjian terlebih dahulu untuk bimbingan.

Cukup menemui di Masjid Nabawi maka urusan revisi tesis selesai. Di akhir bimbingan sang mahasiswa mencium kepala sang profesor sebagai wujud takdimnya kepada guru. Tentu pemandangn ini berbeda dengan yang pernah saya alami saat hendak menjalani skripsi.

Dosennya  begitu formal, karena tidak tahu kebiasaan sang dosen maka saya mencoba menunggunnya datang untuk konsulltasi skripsi. Ketika dia datang, kalimat yang pertama muncul adalah apakah kamu sudah telepon dan janjian? Saya jawab belum.

Lalu dia menutup pintu tanpa ada senyum. Padahal dia seorang dosen pemasaran yang harus mengerti hubungan dosen dan mahasiswa. Keesokan harinya saya coba telepon dan janjian untuk meminta bimbingan dan dijawab oke bisa dan telepon langsung ditutup.

Saat menjalani bimbingan pun lama sekali. Perlu waktu hampir setahun. Dan yang  saya ingat adalah kata pengantar skripsi direvisi hingga empat kali. Wkwkwkwk. Konon, sang dosen itu sudah lama tertimpa sakit stroke.

Mudah-mudahan segera disembuhkan Allah SWT. Pelajaran bertemu guru besar Universitas Islam Madinah memberikan gambaran betapa  dia melayani mahasiswanya dengan ramah, sopan. Padahal, dalam konteks transaksi bisnis, relasi dosen dan mahasiswa ibarat relasi produsen-konsumen.

Dosen memiliki kewajiban terhadap mahasiswa dan sekaligus berhak meraup haknya. Demikian pun mahasiswa. Hanya menuntut hak tanpa menebus dengan kewajiba n itu namanya kezaliman satu pihak terhadap pihak lain.

Di akhir pembicaraan, Prof. Musa Muhammad menitipkan nasihat ini kepada kami, hidup ini yang peting dua prinsip. Pertama adalah afwa, kita harus saling memaafkan. Selalu menuhi kewajiban kita kepada sang pencipta, larangan-Nya semaksimal mungkin kita jalani.

Kedua adalah afiah, hubungan dengan sesama makhluk harus saling menghargai sehingga hidup menjadi lebih sehat. Seiring dan tidak berselisih hidup menjadi damai. (radar)

loading...