Sawah Wilayah Muncar Kering

0
99
Ilustrasi

BANYUWANGl – Ancaman kekéringan akibat musim kemarau, tampaknya semakin meluas. Selain di Desa Kebaman, Kecamatan Srono, para petani yang resah akibat tanaman padinya terancam mati akibat kekurangan air, juga terjadi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar (28/9).

Salah satu petani, Suparto, asal Desa Kedungrejo, mengaku sawahnya sudah lama tidak ditanami karena irigasi yang sulit. Hingga akhirnya, di tetap nekat menanam padi karena memiliki cadangan sumur bor.

“Baru sepekan ini menanamnya, air sulit ya nyedot dari sumur bor,” kata lelaki yang berusia 57 tahun itu.

Loading...

Dengan mengaliri sawah dari sumur bor, Suparto menyebut dilakukan dengan cara menyedot pakai mesin diesel. Dan itu, berarti harus mengeluarkan biaya. “Untuk satu petak butuh wakfu seharian,” ungkapnya.

“Suparto mengaku mesin diesel yang dipakai untuk menyedot air itu miliknya sendiri. Sehingga, biaya yang dibutuhkan hanya untuk mémbeli solar. “Dalam sehari, biaya untuk membeli solar habis antara Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu,” terangnya.

Meski sudah sering dialiri dari sumur bor, Suprapto menyebut kalau sawahnya masih kekeringan. Bahkan, sawahnya sudah banyak yang retak karena kekurangan air. “Kalau tidak dialiri jelas mati tanamannya,” sebutnya.

Dengan nada serius, Suprapto mengaku tidak tahu nasib tanamannya. Apalagi, musim kemarau ini sépertinya masih panjang. “Kalau aliran mati terus, tanaman padi mati dan saya rugi,” cetusnya.

Petani lainnya, Sarju, asal Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, menyebut di daerahnya aliran sungai masih mengalir, tapi debitnya sangat kecil. “Air sungai tidak mampu mengaliri sawah,” katanya.

Untuk menjaga tanaman padi miliknya tidak mati, Sarju menyedot sumur bor yang ada di pinggir sawah.” Ketersediaan air di sumur bor juga terbatas, kalau disedot setiap hari ya bisa cepat habis,” ujarnya.(radar)

loading...