Penambang Belerang Minta Kawah Ijen Kembali Dibuka Usai Gelombang Tsunami

  • Bagikan
Foto: Detikcom

BANYUWANGI – Akhir bulan lalu terjadi fenomena alam seperti tsunami di Danau Kawah Ijen, sehingga aktivitas penambangan belerang ditutup. Kini para penambang meminta penambangan tersebut segera dibuka kembali.

Dilansir dari Detikcom, permintaan itu mereka sampaikan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banyuwangi. Sebab, penutupan itu membuat para penambang belerang menganggur sehingga tidak memiliki pemasukan.

“Kami minta untuk adanya pembukaan kembali penambangan belerang. Kami sudah tidak punya uang lagi. Jika dibuka, maka perekonomian kami bisa ada pemasukan,” ujar Arifin, petugas Sulfatara penambangan belerang Ijen kepada wartawan, Selasa (16/6/2020).

Per hari, terang dia, penambang belerang minimal mendapatkan uang dari mengangkut belerang sekitar Rp 70 ribu. Itu jika mereka mengangkut belerang satu kali dalam sehari. Jika dua kali mengangkut, penambang belerang bisa mendapatkan upah dua kali lipat.

“Kalau dua kali naik ya dapat dua kali lipat. Ditambah Rp 10 ribu karena sudah naik dua kali ke Gunung Ijen,” imbuhnya.

Alimik, salah seorang penambang belerang mengaku sudah memahami risiko pekerjaan mereka. Dia menganggap aktivitas kawah Ijen merupakan hal yang biasa dan sangat dipahami para penambang.

“Kita berani mati untuk tetap bekerja di sana, tapi kalau untuk lapar kita takut. Karena ada anak istri yang kita tanggung di rumah,” ujarnya.

Penambangan belerang di TWA Kawah Ijen ditutup sementara setelah adanya penambang belerang yang meninggal dunia, terhempas gelombang tinggi mirip tsunami di Danau Kawah Ijen, Jumat (29/5/2020) lalu.

Penambang itu yakni Andika, warga Dusun Krajan, Desa Blambangan, Muncar. Saat berupaya menyelamatkan diri, ia malah terpeleset hingga akhirnya tercebur ke kawah.

Baca :
Lupa Matikan Kompor, Deretan Warung di Kalibaru Manis Dilalap Api
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: