Andriena Marcelina, Pelopor Fasilitator Psikologi dan Perilaku di Banyuwangi

0
402

Rela Blusukan ke Desa untuk Beri Penyuluhan

DIAKUI atau tidak, banyak orang tua di Banyuwangi yang tidak memahami gangguan perilaku yang diderita buah hatinya. Padahal jika terus di biar kan, gangguan tersebut  bisa berakibat fatal, baik dari sisi perkembangan fisik maupun psikis  sang anak.

Namun, secercah harapan bagi  anak pengidap gangguan perilaku untuk meraih masa depan yang lebih  baik, kini menyeruak. Ada orang  yang secara sukarela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, hingga harta untuk mendampingi atau memberikan  penanganan pada anak-anak yang  membutuhkan terapi perilaku.

Dia  adalah Andriena Marcelia. Bukan hanya memberikan penanganan pada anak yang membutuhkan terapi perilaku, Nina juga membuka tangan lebar-lebar untuk melayani kalangan orang tua yang ingin berkonsultasi dalam hal penanganan perilaku anak.

Bahkan, dia juga kerap blusukan  ke berbagai pelosok desa di Banyuwangi untuk memberikan  penyuluhan kepada masyarakat  tentang gangguan perilaku dan  cara penanganan psikologis anak.  Sepak terjang Nina memberikan pendampingan, pendidikan,  pengembangan life skill pada  anak-anak berkebutuhan khusus  di Banyuwangi dimulai sejak  2012 lalu.

Anak berkebutuhan khusus yang dia layani dikhususkan pada anak yang membutuhkan terapi perilaku, seperti penderita autisme, downsyndrome, disleksia, cerebral palsy, dan lain-lain. Selain itu, dia juga melakukan pembinaan pada anak dengan modivikasi perilaku  akibat pola asuh yang keliru,  misalnya anak yang ngutil uang  orang tuanya.

Down syndrome adalah kondisi  keterbelakangan perkembangan  fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Sedangkan autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan ditandai  dengan kesulitan dalam interaksi  sosial, komunikasi, dan perilaku   terbatas, berulang-ulang dan karakter stereotip.

Sedangkan disleksia merupakan gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia tujuh  hingga delapan tahun. Disleksia  ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan  kesulitan dalam memahami   meskipun normal atau di atas  rata-rata.

Sementara itu, cerebral palsy merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh buruknya  pengendalian kelakuan, otot, kelumpuhan serta gangguan  fungsi saraf lainnya. Awalnya, perempuan kelahiran  Jakarta, 19 Januari 1981, ini membuka praktik konsultasi dan terapi  perilaku anak di satu ruangan  kecil yang berlokasi di kawasan  jalan Adi Sucipto, Banyuwangi.

Namun lantaran ruang praktik  yang dia sewa tersebut tidak mampu menampung banyaknya warga yang datang untuk berkonsultasi, Nina lantas memindah  tempat praktiknya itu ke suatu rumah di Perumahan Flamboyan, Kelurahan Sobo, Banyuwangi.

Lagi-lagi tempat praktiknya  tersebut tidak mampu mengimbangi animo warga yang datang  untuk berkonsultasi. Maka,  alumnus Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip)  Semarang, itu kembali memindahkan lokasi praktik ke Perumahan Tanjung Puring Asri, Kelurahan Sobo, Kecamatan  Banyuwangi.

Di Perumahan Tanjung Puring Asri tersebut Nina membangun pusat pelayanan pendidikan, terapi, dan pengembangan life  skill untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tempat itu sekaligus dimanfaatkan sebagai kantor yang dia pimpin, yakni Yayasan  Matahari Banyuwangi.

“Saya “membobol” tabungan pribadi  dan tabungan suami untuk membangun tempat ini,” ujarnya saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar  Banyuwangi Selasa pagi (4/4).  Saat ini, jumlah anak asuh yang  ditangani Yayasan Matahari Banyuwangi mencapai 160-an  orang.

Rentang usia mereka cukup  jauh, yang terkecil berusia 1,5  tahun dan yang paling besar  berusia 27 tahun. Hebatnya lagi,  anak-anak asuh tersebut tidak  hanya berasal dari seantero Bumi Blambangan. Beberapa di antara  mereka juga berasal dari Negara, Bali dan Paiton, Probolinggo.

Dalam mengelola Yayasan Matahari Banyuwangi, Nina  dibantu 15 tenaga pengajar. Para  tenaga pengajar tersebut mayoritas berlatar belakang sarjana pendidikan. Yayasan Matahari  Banyuwangi itu terbagi dalam  dua divisi, yakni terapi dan home schooling.

Hebatnya lagi, orang yang memiliki anak berkebutuhan khusus  dipersilakan berkonsultasi tanpa membayar. Uniknya, kadang ada  warga yang datang untuk berkonsultasi namun tidak memiliki uang, malah “membayar” jasa konsultasi yang diberikan Nina  dengan satu karung jagung, satu tanda pisang, atau singkong.

Berbeda dengan terapi atau konsultasi, Yayasan Matahari Banyuwangi menerapkan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).  Belum berhenti sampai di situ,  Nina juga tidak segan blusukan naik motor ke berbagai pelosok Banyuwangi untuk memberikan  penyuluhan kepada para orang tua tentang gangguan perilaku anak serta cara penanganannya.

“Di mana pun ada yang mau  kami bagi ilmu, kami siap datang,” cetusnya. Dikatakan, dia bersedia berbagi  ilmu agar kalangan orang tua  mendapat informasi yang benar tentang gangguan psikis anak.  “Karena kurangnya informasi  mengakibatkan terlambatnya  penanganan. Kalau penanganan terlambat, maka proses penanganan tersebut akan semakin berat,”  cetusnya.

Yang menarik, meskipun Yayasan Matahari Banyuwangi  merupakan lembaga nonprofit,  Nina tetap menggaji 15 tenaga pendidik yang mengabdi di  yayasan yang dia pimpin. “Dari  mana uang untuk menggaji karyawan? Selain dari sumbangan orang tua anak asuh, saya juga  menyisihkan pendapatan ketika dipercaya memberikan penyuluhan. Selain itu, kebutuhan dana  untuk membayar gaji itu juga  dibantu suami saya. Suami saya  bekerja sebagai staf biasa di salah satu perusahaan pelayanan di  Ketapang,” akunya.

Sementara itu, orang tua yang datang ke kantor Yayasan Matahari Banyuwangi untuk berkonsultasi ternyata bukan hanya mereka yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Ada juga  warga datang dan mengajak buah  hatinya untuk berkonsultasi lantaran khawatir terhadap perubahan perilaku sang anak.

Seperti dilakoni salah satu warga asal Kecamatan Genteng. Perempuan tersebut mengajak putrinya  yang duduk di kelas sepuluh  salah satu SMA swasta di Banyuwangi untuk berkonsultasi kepada  Nina. “Karena anak saya suka bengong sejak dua bulan terakhir. Selain itu, prestasinya di sekolah  juga menurun,” aku perempuan  tersebut.

Perempuan yang enggan namanya dikorankan itu menambahkan, perubahan perilaku sang  anak itu ditengarai akibat imbas  pergaulan sang anak. “Mungkin karena ada temannya yang tidak suka kepada anak saya sehingga anak saya sering dipoyoki. Anak  saya memang pendiam. Kalau ada apa-apa selalu dipendam sendiri,” pungkasnya. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :