Remix Lagu Terinspirasi Syiir Tampo Waton

0
163
DJ Alix memadukan nada musik dan ketukan yang telah diatur secara rancak melalui alat portable di rumahnya.

ALIX Yuswanto terlihat sibuk sore itu. Di rumahnya yang berada di seberang jalan dari Masjid Darussuban, Krajan 1 Desa Tegalsari. Alix terlihat sibuk mencermati berkas administrasi desa. Sesekali panggilan telepon dari aparat desa tampak masuk ke smartphone-nya.

Sebagai tenaga pendamping lokal desa di Kecamatan Tegalsari, Alix membawahi tiga desa, yakni Dasri, Tegalrejo dan Tamansari. Tumpukan kertas tersebut ditaruh di atas box berisi perangkat elektronik yang biasa disebut portable.

Yakni sebuah alat musik yang biasa diamainkan saat berperan sebagai seorang DJ.  Menjadi DJ bagi Alix bisa dibilang bukan hal baru atau kebetulan. Pria ini memang pernah bersekolah musik khusus untuk DJ di Denpasar.

Sebelumnya, Alix sudah dikenal cukup mahir bermain drum. Kepandaiannya telah mengantarkan menjadi instruktur drum band sekolah bersama sejumlah temannya. Mengenai aktivitas dan tangung jawabnya sebagai seorang pendamping desa, Alix menyebut hal ini sama sekali tidak bertentangan atau menganggu. Justru aktivitas ini sebagai obat stres saat dirinya mengalami kelelahan.

“Saya latihannya kan setiap akhir pekan di Green Light Jaiag. Jadi tidak mengganggu,” ucapnya. Awal mula dia memilih menekuni DJ dimulai pada 2014. Saat itu dirinya sudah menggemari musik dan sering kali bermain band.

Dari iseng-iseng menggubah sebuah lagu, kemudian tertarik menyimak aksi penampilan DJ yang terekam di youtube. Dari iseng tersebut, dia kemudian coba-coba belajar DJ. ” Saya dulu suka aransemen, kalau sekarang disebut ngemix lagu. Saya sangat terinspirasi DJ Steve Aoki, ” ucapnya.

Loading...

Berhubung di daerahnya belum ada yang punya alat portable untuk bermain DJ dan harganya boleh dibilang menguras kantong, dia pun menyiasati rasa penasaran itu dengan belajar melalui perangkat virtual konputer.

Tidak sebentar, hobi bermain secara virtual tersebut dia tekuni hampir selama dua tahun. Setelah merasa memiliki bekal yang cukup, dia kemudian menekuni dan memperdalam ilmu DJ di DlX Denpasar.

” Saya belajar di Denpasar selama dua bulan, ” ujarnya.  Keputusannya hijrah dari alat musik yang telah dia kuasai sebelumnya- seperti drum dan gitar- ke DJ untuk memainkan musik- musik EDM memiliki alasan tersendiri.

Bagi Alix, menjadi DJ seperti menjadi dirigen sebuah pertunjukan orkestra, butuh penguasaan semua alat musik sehingga bisa mendiasilkan karya musik yang harmonis. “Kita itu seperti dirigen, memadukan harmoni dan nada suara-suara,” jelasnya.

Dalam setiap kali meracik karya, Alix mengaku banyak terinspirasi dari kondisi dan lingkungan sekitar rumahnya. Posisi rumah yang berada di lingkungan cukup agamis bahkan berhadapan dengan masjid dan musala justru membuatnya banyak peroleh inspirasi. Puji-pujian atau lagu- lagu rohani yang sering diputar dan dilantangkan melalui spiker justru membuatnya banyak memperoleh ide.

“Lagu seperti syair Tanpo Waton itu sangat menginspirasi. Bahkan karya saya ada yang mirip indung-indung kepala indung,” terangnya.  Aktivitas ini diakui sebagai sesuatu yang aneh di tempat tinggalnya yang cukup kental dengan nuansa religi.

Alix menyebut, sebagian masyaratnya masih memandang sebelah mata dengan anak band. Terlebih saat ini dirinya menjadi DJ, tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri.  Tidak hanya berpangku tangan mendengar komentar miring soal DJ, belakangan dia secara aktif melibatkan diri dan profesi DJ-nya dalam acara kemasyarakatan, seperti senam PKK dan kegiatan desa lainnya.

“Saya dua kali live mengiringi lagu Indonesia Raya dan senam ibu-ibu PKK dan warga di acara CFD Desa Tesalsari,” ungkapnya. Tentu, kehadiran dia di tengah masyarakat terlebih kalangan tua-menjadi sumber pertanyaan.

Bagi  awam, profesi yang dia lakoni dan perangkat alat musik yang dia bawa merupakan barang baru. “Sering ditanyai ini apa elekton, ya macam-rnacam tanyanya warga,” tandasnya. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :