Tularkan Ilmu, Latih Anak-anak Melukis Gratis

0
214
Widya melukis wajah istri Wakapoiri Ny. Mulyani Sujono di Viila Solong, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, kemarin (11-8).

TATAPAN matanya cukup serius tertuju sebuah gambar foto yang dipegang tangan kirinya. Tangan kirinya begitu lincah menggoreskan kuas lukis pada kain kaus berwarna putih dihadapannya. Kuas lukis di tangan kanan tersebut juga ditempelkan pada permukaan cat yang sudah tersediadi meja.

Lelaki berambut gondrong itu tetap fokus meski berhenti menggoreskan kuas. Sesekali Widya memandangi hasil goresannya sembari menggeleng-gelengkan pundak dan lehernya yang mulai kaku.

Sejumlah alat lukis seperti kuas dengan berbagai ukuran, cat warna-warni dan gelas berisi air putih juga berada di atas meja disebelah kanan tempatnya duduk. Di bawah sengatan sinar matahari, Widya tetap tenang dan fokus dengan hobinya melukis sketsa wajah tersebut.

“Melukis sketsa wajah seseorang merupakan salah satu hal yang mudah, namun sulit untuk dilakukan,” ujar Widyo di sela-sela melukis sketsa wajah Istri Wakapolri Ny. Mulyani Sujono.

Menggambar merupakan aktivitas yang sudah digemari sejak kecil. Namun, kegiatan melukis baru rutin dilakukan sejak 17 tahun silam. Awal melukis, Widyo mengaku hanya iseng dengan belajar secara otodidak.

Dengan kegigihannya berlatih, Widyo semakin dikenal. Hingga akhirnya, dia juga mulai menekuni melukis sketsa wajah pada permukaan kaus atau biasa disebut painting kaus. Meski demikian, dia juga masih mahir dalam melukis apapun dengan medan selain kaus.

Loading...

Sketsa wajah yang pernah dilukisnya sudah begitu banyak dan tak terhitung jumlahnya. Beberapa tokoh yang pernah dilukis diantaranya Dahlan Iskan, Gus Dur, Gus Ipul (Saifullah Yusuf), Bupati Anas, artis dangdut Danang, serta sejumlah tokoh lainnya.

Dari sejumlah tokoh tersebut, yang paling berkesan adalah saat melukis wajah Gus Dur. “Kerut wajah Gus Dur sangat menarik,” katanya. Ttidak hanya sosok Gus Dur, Widyo juga pernah melukis wajah Dahlan Iskan saat berkunjung di Banyuwangi.

Dalam kesempatan itu, Widyo juga menyerahkan dan menghadiahkan kaus bergambar Dahlan Iskan. “Saya senang saja jika bisa memberikan hasil karya saya pada seorang tokoh secara langsung sebagai bentuk hadiah dan kenang- kenangan,” terang bapak tiga anak itu.

Saat ini, Widyo tengah mempunyai keinginan untuk melukis sketsa wajah Gus Dur berukuran besar dalam media kain kanvas berukuran dua meter. Sayang, keinginan itu masih belum bisa terlaksana karena kesibukanya.

Selama melukis sketsa wajah tersebut, sejauh ini dia masih belum bisa mematok harga. Pasalnya, potensi dan kemampuan yang dimiliki tersebut lahir secara alamiah yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

“Tidak pantas rasanya jika anugerah ini saya perjualbelikan dan banyak faktor kenapa saya memilih tidak memberi banderol karya saya sendiri,” cétusnya. Untuk menghargai karyanya, Widyo hanya menghitung pengeluaran seperti harga material kaus, cat, dan biaya lainnya.

Adapun harganya tergantung orang yang menilai dan memberinya ongkos. Bahkan, sebagai bentuk pertanggung jawaban atas anugerah yang diberikan oleh Allah SWT, saat ini Widya juga memberikan pelatihan menggambar dan melukis kepada anak-anak di Banyuwangi.

Tak tanggung-tanggung, selama mengajari anak-anak melukis tersebut, dia tidak mematok harga alias gratis. Banyak hal yang ingin dia sampaikan melalui latihan melukis tersebut pada anak-anak.

Beberapa pelajaran yang ingin disampaikan adalah memberikan pentingnya rasa percaya diri, konsentrasi, ketepatan dalam menggaris dan bidang apapun. “Belajar melukis bukan berarti harus menjadi pelukis. Melukis itu melatih rasa percaya diri atas apa yang akan dilakukan, melatih konsentrasi dan ketepatan,” tandasnya. (radar)

loading...