Mengunjungi Ruang Terbuka Hijau Maron di Kecamatan Genteng

1
189

dulu

Dulu Dianggap Angker, Kini Ramai Setiap Malam

Pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) di lapangan Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, memang belum tuntas seratus persen. Meski begitu, RTH itu kian diminati dan dikunjungi warga setiap malam. RAMAI dan ekonomi masyarakat kecil terlihat sangat menggeliat. Itulah kesan bila kita berkunjung ke RTH Maron di Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, khususnya pada malam hari.

Setiap malam bisa dipastikan ada ribuan orang yang silih-berganti menghabiskan waktu di RTH Maron. Sejak sore sekitar pukul 16.00, para pedagang kaki lima (PKL) sudah menata dagangan. Ada warga yang berjualan mi ayam, bakso, makanan ringan, rokok, kopi, dan berbagai macam dagangan lain. Tempatnya berjajar rapi di sisi timur RTH Maron. Selain itu, juga ada penjual jasa mainan anak-anak, seperti skuter, mobil-mobilan, kolam pancing ikanikanan.

Menjelang petang sekitar pukul 18.30, giliran pengunjung yang terus berdatangan. Mereka yang notabene warga sekitar RTH datang bersama anak dan istrinya dengan berjalan kaki. Warga yang rumahnya agak jauh atau dari luar Kecamatan Genteng, datang dengan naik kendaraan roda dua dan empat. Semakin malam suasananya semakin ramai. Untungnya para juru parkir pintar mengatur kendaraan. Mereka membuka lokasi parkir di lapangan.

Sehingga, berapa pun banyaknya kendaraan yang datang tetap bisa tertampung dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Kondisi semacam itu hampir terjadi setiap malam. Khusus malam Minggu atau Sabtu malam, pengunjung tambah banyak Saking padatnya kendaraan yang lalu lalang di jalur  menuju RTH Maron, sebagian kendaraan yang dari arah selatan menuju arah Kecamatan Sempu maupun sebaliknya terpaksa harus dialihkan ke jalur alternatif, yaitu melalui Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng.

Oleh karena itu, meski belum tun tas seratus persen, RTH Maron be nar-be nar menjadi ikon baru di Kecamatan Gen teng dan Ba nyu wangi Selatan yang bisa di kunjungi warga secara gratis. Ramainya RTH Maron tersebut ter nyata membuat warga sekitar benar-benar senang. Para PKL pun memuji terobosan atas pembangunan RTH tersebut.

Warga dan para PKL sesungguhnya takjub terhadap RTH di sisi barat lapangan Maron yang kini ter lihat indah dan selalu dipadati pengunjung tersebut. Maklum, dulu bila tak ada kegiatan besar di lapangan Maron, suasana malam hari di lokasi tersebut sangat sunyi. Bahkan, se bagian warga menyebut tempat tersebut sebagai tempat angker yang menakutkan. “Tapi sekarang seperti ini.

Semua orang se nang. Masyarakat juga bisa cari nafkah di sini,” kata Sudarto, salah satu pedagang yang biasa mangkal di RTH Maron. Kondisi RTH Maron saat ini ten tu telah men jawab keraguan se bagian elemen yang dulu menolak pem bangunan RTH tersebut. Para pe nyedia jasa parkir pun dulu takut kehilangan lahan ekonomi karena tembok lapangan sisi barat dibongkar. Dulu itu dikhawatirkan akan menyebabkan para event organizer enggan menggelar kegiatan di tempat tersebut.

Namun, kini semua itu terbantah. Para juru parkir kini tak perlu lagi menunggu even tertentu yang digelar di Lapangan Maron. Sebab, hampir setiap malam mereka bisa mengais rezeki di lokasi tersebut. Sekadar tahu, renovasi sejumlah RTH yang digagas Bupati Anas itu awalnya mengundang kontroversi. Bahkan, ada elemen masyarakat yang menolak program tersebut. Beberapa RTH yang telah direnovasi Pemkab Banyuwangi adalah Taman Sri Tanjung, Taman Blambangan, Taman Makam Pahlawan Wisma Raga Satria, dan Taman Tirta Wangi (Patung Kuda). Semua berada di pusat kota. Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga membangun sejumlah RTH di kecamatan-kecamatan, salah satunya di Lapangan Maron, Kecamatan Genteng. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :