Ramai Peziarah di Bulan Suro

0
2178

Meski demikian, koran ini berhasil mengabadikan sejumlah sudut yang menjadi cagar budaya itu. Salah satunya, pintu gerbang sebelum masuk di areal pemakaman. Di sana ada tulisan berhuruf Jawa, “Kena Lumebu Jen Wes Weruh Djerone”. Selain itu, ungkapan penuh makna lain juga ditemukan di kawasan seluas kurang-lebih setengah hektare itu. Di Dinding atas gedung pemakaman, misalnya, tertulis“Sri Naga Radja, Paring Wangsit Bedja Kang Bisa Nampa”.

Tidak hanya itu, juga ada kalimat “Kena Munggah Jen Wis Weruh Duwure, Teka Ora Mara, Musna Ora Lunga, dan Imbuh Ora Wawuh, Suda Ora Kalung”. Begitulah beberapa kalimat ada di kawasan pemakaman yang dikenal keramat itu. Di areal pemakaman yang berlokasi sekitar 300 meter dari jalan desa itu, ada sejumlah tempat untuk pertemuan.

Aula misalnya. Aula tersebut berada di timur makam prajurit tersebut. Selain itu, kolam renang dan musala juga tersedia di tempat tersebut. Makam Raden Djojo Poernomo tersebut berdampingan dengan Raden AJ. Soeprapti yang tercatat wafat pada tahun 17 Maret 1965. Konon, Raden AJ. Soeprapti merupakan abdi dalem yang sangat berbakti. Sehingga, kedua prajurit tersebut dimakamkan secara berdampingan.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | Next → | Last

Baca :
Baritan Takir Sewu, Tradisi Petani Banyuwangi Minta Hujan